Sebenarnya dari dulu saya ingin main seri Kara no Shoujo ini, tetapi pada saat itu hanya baru dua seri yang dirilis. Setelah seri terakhirnya dirilis pada saat Natal tahun lalu, akhirnya saya memutuskan untuk main marathon seri novelnya di bulan Januari lalu setelah sebelumnya menyelesaikan beberapa novel visual lain sebelum masuk ke seri ini.

Kara no Shoujo, merupakan sebuah seri trilogi yang diproduksi oleh studio Innocent Grey, dengan Miya Suzuka sebagai penulis skenario, Miki Sugina sebagai desain karakter sekaligus ilustrasi CG, dan MANYO yang mengomposisi seluruh BGM dan lagu pembuka dan penutup seri ini. Kara no Shoujo (殻ノ少女) dirilis pertama kali pada 4 Juli 2008, kemudian versi remasternya dirilis pada 20 Desember 2019 dengan beberapa perubahan seperti versi HD dan seiyu untuk protagonis.

Lima tahun setelahnya pada 8 Februari 2013, Kara no Shoujo (虚ノ少女): The Second Episode rilis. Versi remaster untuk episode keduanya dirilis pada 28 Agustus 2020. Kemudian, seri final dengan judul Kara no Shoujo (天ノ少女): The Last Episode pun rilis pada 25 Desember 2020. Sampai saat ini, seri pertama dan seri kedua Kara no Shoujo sudah ada dalam versi bahasa Inggris yang dirilis oleh MangaGamer. Seri pertama dirilis secara global pada 29 Juni 2011 dan seri kedua dirilis pada 30 Oktober 2015.

Touko Kuchiki (© Innocent Grey)

Kara no Shoujo memiliki latar waktu pada tahun 1956m di mana Jepang dalam keadaan setelah Perang Dunia II. Seri ini berpusat pada seorang detektif bernama Reiji Tokisaka, yang dahulu menjadi seorang polisi. Karena suatu kasus yang dikenal dengan kasus Rokushiki, Reiji pun mengundurkan diri dari kepolisian karena dalam kasus tersebut Reiji kehilangan tunangannya, Yukiko Miyama.

Dalam seri pertama, ceritanya berfokus pada kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Sekolah Khusus Perempuan Ouba, di mana sebuah bukti membawa Reiji semakin dalam untuk mengetahui alasan sebenarnya dari kejadian tersebut hingga kejadian tersebut memiliki hubungan dengan kasus Rokushiki. Di sisi lain, Reiji juga menerima permintaan aneh dari seorang gadis yang bernama Touko Kuchiki untuk mencari jati dirinya. Sedangkan dalam seri kedua, karena suatu hal Touko Kuchiki ternyata menghilang selama dua tahun. Terdapat kasus baru tentang pembunuhan berantai yang dikaitan dengan kutukan Hinna-sama, sebuah kutukan yang berasal dari kepercayaan oleh masyarakat Hitogata, sebuah desa di pegunungan bersalju yang terletak di barat laut Jepang. Reiji pun masih terus mencari Touko yang menghilang. Dan terakhir untuk seri ketiga, berkisah tenyang Reiji yang sudah menemukan apa yang dia cari selama iniーTouko, tetapi kasus yang hampir sama dengan seri pertama membuat Reiji semakin ingin mengakhiri paranoia yang menghantui dirinya.

Kyoko Hazuki (© Innocent Grey)

Dalam menghabiskan seri novel visual ini, saya membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. Ada pun waktu main untuk seri Kara no Shoujo berbeda, untuk seri pertama dan ketiga durasinya adalah 10-30 jam (medium), sedangkan untuk seri kedua sendiri memerlukan 30-50 jam (long) dikarenakan perlunya memainkan past arc untuk memahami latar belakang kasus yang terjadi. Kara no Shoujo tidak hanya melihat dari sisi protagonis, tetapi melihat seluruh kasus atau kejadian dalam sudut karakter sampingan. Terdapat fungsi notebook yang dapat diakses pemain untuk dapat memahami latar belakang setiap karakter, bukti kasus, dan juga menjadi pedoman untuk pemain dapat memilih tersangka yang benar. Selain itu ada investigation mode yang merupakan mode untuk melalukan investigasi dalam menyelidiki kasus-kasus di tempat kejadian secara langsung, yang dapat diartikan Kara no Shouji merupakan gim novel visual semi-interaktif.

Secara cerita, Kara no Shoujo memiliki cerita yang kompleks. Dan yang paling menarik adalah bagaimana perkembangan cerita dalam seri ini. Seri pertama, plot twist serta klimaks cerita menjadi poin utama. Ketika saya memainkan seri pertama, saya menebak-nebak siapa dalang kasus-kasus yang terjadi dalam seri novel visual ini yang akhirnya membuat saya merasa kesal dengan dalang utama kasus yang terjadi di seri pertama (sampai ingin menghajar sang dalang utama kalau bisa). Dalam seri kedua, atmosfir dalam seri novel ini semakin kuat, yang membuat saya semakin penasaran, terutama apa yang terjadi pada karakter Touko Kuchiki yang menghilang karena suatu kejadian pada seri pertama dan  seri kedua ini juga menguras emosi. Reiji dalam seri kedua ini semakin terjerumus dalam kondisi yang cukup menyedihkan yang mana dia menutup hatinya setelah kehilangan tunangannya dan Touko sendiri. Seri ketiga atau terakhir menjadi puncak dari penderitaan atau paranoia yang Reiji maupun karakter lain, seperti Ryouichi Yaginuma (kepala divisi penyelidikan).

Yukiko Kayahara & Yukari Tokisaka (© Innocent Grey)

Kara no Shoujo tidak hanya sekedar cerita ala detektif, tetapi ada unsur estetik yang dapat dilihat dari ketiga seri ini serta drama yang digambarkan secara realitis. Hal ini bisa dilihat melalui bagaimana penjelasan tentang akibat kematian korban, kasus, serta cara menuntaskan kasus keji dalam cerita yang menurut saya memang seperti cara detektif dan polisi bagai macam di drama misteri TV.

Tak lupa juga estetika bahasa yang ada dalam wujudnya membahas dan memberikan unsur literatur di ceritanya, yang mana yang saya paling sukai adalah sebuah cerita malaikat dalam mengelilingi dunia yang merupakan semua hal yang ada di bumi kita, baik kegelapan sampai kebahagiaan. Selain itu ada unsur drama yang terjadi di antara Reiji dan setiap karakter yang ada, seperti keinginan adik ReijiーYukariーyang ingin membantu kakaknya, masalah keluarga yang dialami Tomoyuki Masaki, hubungan romansa yang tak jelas antara Reiji dan Kyoko yang merupakan teman lama Reiji, dan lain-lainnya. Perkembangan setiap karakter tersebut menjadi hal menarik selain ceritanya, seperti contohnya Reiji yang pada awalnya terjebak dalam paranoianya akhirnya bisa melepas dirinya dari kondisi yang menyedihkan, Ryouichi Yaginuma yang akhirnya bisa membalaskan dendamnya, Kyoko yang akhirnya mendapatkan tambatan hati demi kebahagiaannya dan terbebas dari hubungan tanpa status dengan Reiji, dan lain-lainnya.

Reiji Tokisaka (© Innocent Grey)

Secara sistem yang ada dalam seri novel visual ini cukup mengesankan, bagaimana dari hanya sebuah teks biasa dan sprite karakter berubah menjadi sebuah teks yang di dalamnya ditambahkan animasi sederhana yang membuat cerita dan karakter semakin hidup. Hal itu pun juga berlaku pada ilustrasinya, yang pada seri ketiga dibuat seperti lukisan realis yang indah (sasuga Miki Sugina). Dan terakhir ada jump mode. Hal ini sangat berfungsi untuk melewati scene yang sudah dibaca dan mempersingkat waktu bermain. Sedangkan musiknya pun selalu enak didengar dan sangat pas dengan keadaan yang ada, terutama adegan horornya.

Hal yang dapat dipetik dalam seri novel visual ini adalah bahwasanya kita manusia merupakan makhluk yang sering jatuh bangun. Ketika kita sedang jatuh ke dalam lubang gelap, kita berusaha mencari berbagai cara untuk bisa menyelesaikan masalah yang ada. Serta manusia merupakan makhluk yang kompleks, yang terkadang dengan sebuah alasan sepele pun bisa mendorong manusia untuk melakukan kejahatan. Dan dari pengalaman itulah seorang manusia bisa berkembang entah menjadi lebih baik atau pun sebaliknya.

KAORI Nusantara | Oleh Widya Indrawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.