BAGIKAN

Entri ini mengandung gambar yang mungkin tidak aman dibuka di lingkungan kerja atau keluarga.

Episode pertama Masou Gakuen HxH (Hybrid x Heart Magias Academy Ataraxia) mungkin membuka sejarah baru dalam dinamika anime di Jepang. Tepat pada episode pertama, penonton disajikan dengan dada yang besar, paha dan pantat yang besar, serta adegan mendekati anime hentai. Anime ini jadi fenomenal karena bagi penonton episode perdananya, detail yang disajikan umumnya hanya muncul dalam versi OVA atau sebagai fanservice yang tidak terlalu integral dalam cerita utamanya. Highschool DxD dan Shinmai Maou no Testament, bahkan Kanokon masih bisa ditonton (walau akan terasa tidak nyaman) dengan sensor dan gunting adegan dalam standar konservatif.

Hujatan pun beredar di internet dan media sosial. Sebagian mulai menyuarakan kekhawatiran tak beralasan, mencontohkan Masou Gakuen sebagai titik nadir dunia anime Jepang; padahal jumlah anime yang menampilkan fanservice sebagai pengiring bisa dihitung dengan jari setiap musimnya. Sebagian ramai-ramai menghimbau agar orang tidak menonton anime ini, menganggapnya sampah karena tidak menjual cerita yang baik. Hal ini menjadi paradoks ketika direnungkan.

Memang dibuat untuk mengiklankan novelnya

Advertisement Inline

Ditulis oleh Masamune Kuji dan digambar oleh Hisasi yang sebelumnya tenar sebagai komikus porno, sampul novelnya sejak awal sudah mengisyaratkan konten mendekati eksplisit; tapi argumen ini akan dibahas selanjutnya. Tak kalah penting, novelnya diterbitkan oleh Sneaker Bunko, salah satu imprint novel ringan perusahaan Kadokawa.

Pada pertengahan 1980-an, Kadokawa, konglomerat media yang didirikan oleh Haruki dan Tsuguhiko Kadokawa, memperkenalkan konsep mixed media kepada dunia. Konsep yang juga dikenal dengan nama transmedia storytelling ini menekankan trilogi film – novel – soundtrack dalam kesuksesan sebuah judul. Diikuti dengan perkembangan konsep production committee dan konsep-konsep lain, ada banyak motivasi dan faktor yang menentukan hasil akhir sebuah anime.

Dari yang terjadi sebelumnya, adaptasi anime yang berasal dari novel ringan memiliki motivasi untuk mengiklankan novelnya. Setelah animenya tayang, hal pertama yang terjadi adalah penjualan novel yang terdongkrak signifikan. Walau begitu, kesuksesan komersial (penjualan novel, penjualan BD) tidak melulu jadi faktor tunggal dari kelanjutan adaptasi sebuah anime dan bila berbicara hanya tentang anime, banyak anime yang tetap tayang meski penjualan BDnya tidak bagus-bagus amat (Shin Atashinchi dan Sazae-san contoh bagus). Tetapi, hal tersebut tidak mengurangi fakta bahwa sejumlah anime memang dibuat dan didesain untuk menarik penontonnya agar membaca novel ringannya.

Bila memang Masou Gakuen HxH memang diadaptasi dengan premis dan sajian utama yang tergambar pada episode 1-nya, standar (atau nilai yang dianut setiap individu, kemudian dipaksakan ke orang lain) jadi bahasan berikutnya.

Standar, standar, standar

Setiap orang memiliki standar tentang apa yang baik dan buruk bagi dirinya. Dalam dunia hiburan yang kompetitif di mana setiap orang harus melakukan diferensiasi produknya, nilai jual menjadi penting. Branding, positioning, dan strategi pemasaran lain menjadi tak terelakkan dalam dunia di mana 322 judul anime dirilis setiap tahun.

Dengan segala hormat, kesuksesan komersial menjadi kunci dari apapun yang diproduksi dalam dunia hiburan. Lembaga penyiaran publik yang didanai dari pajak warga negaranya baik di Inggris, Jerman, atau Denmark, pun dituntut untuk memproduksi barang yang bisa diterima oleh banyak orang, jadi rasanya tidak logis jika mengharapkan segala jenis hiburan harus berlomba menyajikan cerita yang baik atau terbaik.

Kecuali karya tersebut dibuat oleh Haruki Murakami dan dinominasikan untuk memenangkan hadiah Nobel, dalam dunia hiburan yang cepat dan bertempo tinggi, menciptakan produk yang menghibur menjadi tujuan utama. Cewek seksi, lawakan slapstick, dan plesetan (mendekati plagiarisme) yang dicela-cela oleh penonton “saluran televisi masa kini” toh sudah ada sejak film Warkop DKI. Tiga puluh tahun kemudian, Warkop dielu-elukan menjadi ikon budaya, contoh klasik bias zaman dulu vs zaman sekarang yang juga terjadi dalam dunia anime.

Didukung dengan confirmation bias dan kepopuleran komponen hypermediality (di mana cerita/narasi besar tidak lebih penting dari pengembangan karakter yang dipopulerkan oleh Infinite Stratos), orang beramai-ramai mencela Masou Gakuen. Tetapi bagaimana bila ternyata Masou Gakuen memang dibuat dan didesain untuk menjual kepuasan seksual sebagai konsumsi utama? Rasanya sah-sah saja. Justru menjadi masalah ketika seseorang membaca sinopsis, menonton trailer, menonton episode pertamanya, kemudian nyinyir karena tidak mendapatkan Ghibli di dalamnya!

Meraba, meremas, dan menggerayangi bagian tubuh perempuan dari atas sampai bawah.
Meraba, meremas, dan menggerayangi bagian tubuh perempuan dari atas sampai bawah….. agar mereka bisa menyelamatkan bumi dan masyarakat! (Production IMS / Kadokawa)

Tetapi sebagaimana tiga episode pertama tidak bisa dijadikan patokan tunggal dalam memvonis sebuah anime, episode satu Masou Gakuen, sampai artikel ini ditulis, tidak bisa dijadikan tolok ukur anime tersebut dalam satu musim. Bisa jadi anime ini akan berakhir medioker dengan fanservice yang malah mengganggu kenikmatan menonton atau bisa jadi anime ini sukses besar menghadirkan kepuasan seksual, hal yang tidak benar-benar dilakukan sebelumnya. Bila orang-orang bisa benar-benar bermasturbasi hanya dengan menonton anime ini, rasanya fair kalau anime ini dianggap sukses.

Dari perspektif lain, episode perdana anime ini justru menayangkan sisi lain feminisme: perempuan yang secara terbuka mengekspresikan dirinya. Tokoh utama anime ini bukan manusia alfa seperti Cross Ange, tetapi berada dalam kondisi terpaksa, menuruti perintah atasan dan mitranya yang seorang perempuan. Sisi lain konsep feminisme radikal yang jarang didiskusikan di media sosial adalah bagaimana feminisme ini menyatakan perempuan agar merebut kembali kemerdekaan atas alat reproduksinya: kapan mau berhubungan badan, kapan mau memiliki atau tidak memiliki anak, dan dengan siapa ia memilih pasangannya apakah dengan sesama perempuan atau dengan laki-laki. Secara tidak langsung, komentar-komentar di internet juga mengungkap sisi misoginis, standar ganda sebagian penonton (laki-laki) yang merendahkan anime ini: apakah salah bagi seorang perempuan untuk memilih melakukan pemenuhan kebutuhan seksualnya dan menggunakannya sebagai alat untuk melawan musuh eksternal?

Otsuka pernah menjelaskan mengenai sifat asimetris seorang otaku antara kesukaannya dengan dua dimensi yang tidak selalu sejalan dengan kesukaan terhadap tiga dimensi sehingga belum tentu penggemar anime ini memiliki pikiran kotor (khawatirlah dengan sebagian oknum yang melebih-lebihkan perkawinan Otogi Nekomu atau yang gembar-gembor menjatuhkan nama Emi Nitta tanpa rasa kemanusiaan.) Jadi kalau memang orang menonton Masou Gakuen karena mengharapkan seks dan cerita yang menunjang hiburannya, sepantasnya hal tersebut dihormati dan diterima sebagai pilihannya.

Bacaan lebih lanjut:

  • Eiji, Ō., & Steinberg, M. (2010). World and Variation: The Reproduction and Consumption of Narrative. Mechademia, 5(1), 99–116. Retrieved from http://muse.jhu.edu/journals/mechademia/v005/5.eiji.html\nhttp://muse.jhu.edu/login?auth=0&type=summary&url=/journals/mechademia/v005/5.eiji.html
  • Saito, S. (2014). Narrative in the Digital Age: From “Light Novels” to Web Serials. Retrieved from https://www.bgsu.edu/content/dam/BGSU/college-of-arts-and-sciences/ics/documents/Narrative in the Digital Age.pptx

Kevin W | penulis telah menyelesaikan studi sarjana dengan penelitian mengenai representasi perilaku konsumsi dan produksi otaku dalam novel ringan Saenai Heroine no Sodatekata.

Artikel ini adalah pendapat dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.