SHARE
Foto ini sengaja diambil dengan tujuan memancing ketertarikan para wibu. (Kevin W)

reon

Sudah banyak buku yang membahas keberhasilan Ignasius Jonan dalam merevolusi kereta api. Dua di antaranya adalah Jonan dan Evolusi Kereta Api Indonesia oleh Hadi M Djuraid dan KAI Recipe oleh LPEM FEUI. Tetapi belum ada buku yang mengulas perubahan signifikan yang terjadi di dalam KRL Jabodetabek selama lima tahun terakhir.

Kisah perubahan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) dirangkum dalam buku The Untold Story of E-Ticketing: Kisah di Balik Modernisasi KRL Jabodetabek yang ditulis wartawan senior Kompas Haryo Damardono. Menariknya, nada di buku ini lebih realistis daripada dua buku sebelumnya yang lebih banyak memaparkan kisah keberhasilan di akhir, sehingga sejumlah pengalaman yang dibagikan dalam buku ini bisa diterapkan di luar KCJ.

Dengan bahasa yang sederhana, perjalanan awal KRL Jabotabek pada 1925, lalu 1976 diceritakan. Buku ini memberi pengertian pada pembacanya bahwa KRL Jabodetabek punya perlakuan berbeda dari kereta api jarak jauh. Kemudian kisah melompat ke tahun 2009 saat KCJ baru saja berdiri. Hal ini sebenarnya cukup disayangkan karena penumpang atap, pedagang di stasiun, dan masalah-masalah lain KRL Jabodetabek bermula di antara tahun-tahun tersebut dan perlu diceritakan.

Setelah KCJ didirikan, manajemen tidak melakukan perubahan signifikan selain membeli KRL seri 8500 “Jalita” dan mengubah tiket kertas dengan logo KCJ. Tetapi manajemen berganti dan drama di dalamnya pun bermula. Cukup terkejut ketika sejumlah drama yang sifatnya cukup internal ternyata ditulis (dengan sejumlah pemolesan) di buku ini! Bagaimana drama direksi dengan senior manager, manager dengan pelaksana di lapangan, dan yang tak kalah seru, drama KAI vs KCJ. Hanya saja masalah ego sektoral middle management KAI dan KCJ tidak dibahas di sini. Atau kisah bagaimana dulu sempat ada ide gila mengenai perbedaan tarif tiket berdasarkan armada yang dinaiki, apakah KRLnya milik KAI atau KRLnya KCJ. Atau argumentasi perbedaan kelas dan layanan meski di Jepang tarifnya sama antara layanan ekspres dan layanan yang berhenti di setiap stasiun.

Persiapan tiket elektronik di sini juga menarik dibaca walau mengundang pertanyaan juga. Misalnya, dari mana angka 1,2 detik waktu transaksi tercepat di gate tiket elektronik diambil dengan realisasi 3-4 detik per orang. Atau mengapa tempat melakukan tap in tiket elektronik tidak bisa secepat tap in di Jepang, yang mana gate sudah menyala hijau tanpa perlu ditempelkan terlebih dahulu. Sebagai perbandingan, JR East menyiapkan spesifikasi gate dengan target transaksi 1 detik per orang, tanpa perlu disentuh.

Justru kisah penertiban stasiun-stasiun di Jabodetabek menjadi kisah paling menarik di sini karena sebagian besar cerita penertiban di sini menawarkan detail baru dari sisi KAI dan KCJ. Bagaimana buku ini menyajikan drama di balik penertiban stasiun, bagaimana agar isunya tidak membesar atau dibesarkan, dan tentunya cerita di balik penertiban stasiun Universitas Indonesia yang fenomenal tersebut. Sebagian mahasiswa UI, as usual, tidak bisa memetakan mana yang prioritas, apakah penumpang KRL Jabodetabek atau kios yang masa kontraknya telah habis. Ada teman saya yang memilih bertahan di stasiun ketimbang mengikuti ujian semester!

Kisah selanjutnya saat pelaksanaan tiket elektronik sampai mesin tiket otomatis tidak banyak berisi hal baru. Kisah perubahan KRL menjadi formasi 12 kereta bahkan hanya disebut sekilas di buku ini. Drama antrian Manggarai pun tidak banyak dibahas dan hanya berhenti pada aspek tiket elektronik. Detail-detail kecil ini yang sebaiknya ditampung, apalagi mengingat buku ini menjadi de facto sejarah KCJ versi resminya.

Bagi yang mengikuti kejadian-kejadian di dalam buku ini as it happened, tentu akan menemukan buku ini sebagai rangkuman yang menyenangkan untuk dibaca kembali, sembari mengecek lagi e-mail broadcast pada waktu itu (dan termesem-mesem sendiri membacanya).

Tetapi buat yang baru menaiki kereta api setelah 2013 atau tidak mengerti sama sekali tentang dunia kereta api namun penasaran dengan cerita di balik layar KCJ, buku ini jadi panduan yang menarik untuk dibaca tidak hanya mengenai perubahan-perubahan KRL Jabodetabek secara umum, tapi sebuah potret transformasi KCJ dengan detail-detail yang luput dari pandangan media mainstream.

Oleh Kevin W | Penulis telah menggunakan transportasi KRL sejak 2007 sejak zaman masih sering tidak membeli karcis, menggunakan abunemen KRL ekonomi AC, sampai membeli kartu multi trip di hari pertamanya dijual. Pengguna Transjakarta sejak bus Huanghai pertama beroperasi di koridor 5.