BAGIKAN
Lokomotif D52099

reon

Selamat datang di rubrik Locomotive Sunday! dalam rubrik ini, KAORI akan membahas secara mendalam berbagai unit lokomotif dengan berbagai fakta menarik yang mungkin mengena di hatimu, di setiap edisinya. Simak juga KRL Wednesday yang fokus membahas rangkaian KRL!

Edisi kali ini hadir berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Sambil menemani anda bersantai bersama keluarga di hari Minggu ini, kami masih akan membahas secara khusus tentang seri lokomotif uap yang pernah berjaya di Indonesia yaitu D52, salah satu seri lokomotif yang dapat dikatakan sebagai lokomotif pelari kencang.

Apa itu D52?

D52 adalah salah satu armada lokomotif milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang didatangkan oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKA), perusahaan kereta api (KA) di Indonesia pada saat itu mulai tahun 1950 dari pabrikan Fried Krupp, Jerman Barat kala itu sebanyak 100 unit. Lokomotif uap dengan konfigurasi 2-8-2 (bahasa uniknya Mikado) ini merupakan lokomotif dengan kemampuan serbaguna, yaitu lokomotif ini bisa digunakan untuk menarik kereta barang maupun penumpang. Lokomotif D52 bisa dikatakan sebagai lokomotif uap yang paling modern yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dengan diameter roda penggerak sebesar 1503 mm, berat kosong 63.7 ton, dan daya sebesar 1600 HP. Dengan spesifikasi seperti itu, lokomotif ini dirancang untuk berlari di trek yang cenderung datar dan lurus, hal istimewa dari lokomotif ini adalah kecepatan maksimalnya dapat dipacu hingga 90 km/jam.

Lokomotif ini tersebar di 8 dipo lokomotif di Jawa dan Sumatera yaitu:

  • Jatinegara, (22 unit)
  • Cirebon, (15 unit)
  • Banjar, (6 unit)
  • Kutoarjo, (3 unit)
  • Yogyakarta, (16 unit)
  • Madiun, (15 unit)
  • Sidotopo, (13 unit)
  • Kertapati, (10 unit)

D52 saat didatangkan memiliki dua jenis bahan bakar, D52001 hingga D52050 menggunakan bahan batubara sementara untuk 50 unit lainnya menggunakan bahan bakar minyak residu. Sekitar tahun 1956 hingga 1965 sebanyak 21 lokomotif D52 yang berbahan bakar batubara dikonversi menjadi lokomotif berbahan bakar minyak residu di Balai Yasa Madiun yang saat ini sudah berubah menjadi PT Industri Kereta Api (INKA). Sebanyak 29 unit sisanya tetap menggunakan batubara dan 10 di antaranya dikirim ke Sumatera.

Perjalanan Hidup D52

D52 merupakan lokomotif uap dengan tekanan uap tertinggi di Indonesia. Kebocoran sedikit saja akan membuat ketel/boiler D52 meledak. Beberapa contoh kasusnya adalah D52 084 yang meledak di Galuh Timur, Bumiayu pada Agustus 1977. Oleh karena itu, selain masinis dan juru api, petugas khusus juga ditugaskan untuk merawat D52. Dipo yang menjadi “pangkalan” utama D52 adalah Madiun dan Cirebon.

Selain itu, pada tanggal 19 Agustus 1964, D52015 yang sedang menunggu rangkaian KA 2134 (Manggarai-Cikampek) di emplasemen Manggarai meluncur tanpa awak ke arah Tanahabang dengan kecepatan sekitar 20 km/jam. Lokomotif akhirnya dapat dihentikan oleh seorang Juru Langsir yang melompat ke kabin dan menarik tuas rem. Selain itu, D52 milik dipo lokomotif Sidotopo dahulu merupakan penarik KA Rapih Dhoho dengan stamformasi 3 CW (kereta kelas 3). Sementara dari Blitar, Dhoho ditarik oleh C27/28 dengan stamformasi 3 CW. Kedua rangkaian digabung di Kertosono dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya ditarik oleh D52. Dari Surabaya, rangkaian juga dipisah di Kertosono, dan ditarik D52 menuju Madiun dan C27/28 menuju Blitar. Dhoho menjadi KA Cepat terakhir yang ditarik oleh lok uap. Pada sekitar 1972/73, Dhoho tidak lagi melayani rute Madiun-Surabaya, hanya Blitar-Surabaya. Dan pada 1976, Dhoho pertama kali ditarik oleh lok diesel, BB301. Hal ini menandakan berakhirnya era D52 dan C27/28 sebagai lok Dhoho.

DD5203 di Malangbong | Photo by: Geoff Plumb

D52 086 milik Dipo Lok Kutoarjo merupakan D52 terakhir yang bisa beroperasi. D52 ini berjalan menarik KLB dari Kutoarjo-Purwokerto PP setiap hari Kereta Api (28 September). Sayang, tim Heritage terlambat menyelamatkan D52 086. Ketika tim heritage datang, D52 086 sudah dirucat. Dari 100 unit D52, hanya tersisa satu unit, yaitu D52 099. D52 099 merupakan lok milik dipo Cirebon. D52 099 kemudian menjadi pajangan di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), digandengkan bersama set kereta kepresidenan era Bung Karno.

Lokomotif D52 sempat digunakan untuk KA dari/menuju Bandung. Namun selepas D52 065 terguling di Trowek/Cirahayu pada 1965, D52 dilarang melintas di lintas Ciawi-Bandung/Purwakarta-Bandung. Akibatnya, D52 milik Dipo Bandung kemudian dimutasi. Beberapa D52 memang sempat mengalami PLH di lintas Banjar-Bandung, diantaranya adalah D52 080 yang terguling di Malangbong karena sabotase DI/TII.

Dipindahkan ke Solo Untuk Menjaani Reaktivasi

Setelah berdiam diri menjadi pajangan di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, akhirnya lokomotif D52 099 terpilih untuk direaktivasi, setelah menempuh perjalanan panjang dari TMII akhirnya lokomotif uap D52 099 telah tiba di Solo pada Rabu (17/11/16) dini hari. Lokomotif uap tersebut diangkut dari Jakarta menggunakan truk trailer sejak Minggu (13/11/16). Setelah tiba di Stasiun Solo Balapan, lokomotif ini kemudian dibuka terpalnya dan diserahterimakan kepada pemerintah Kota Surakarta yang diwakili langsung oleh Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.

Lokomotif Uap D52099 Telah Tiba Di Solo
Lokomotif Uap D52099 saat sudah tiba di Solo. | Sumber: Angin Piatos.

Ada yang unik saat pengiriman lokomotif D52099 ke Solo saat itu, karena cerita-cerita mistis yang menyelimuti lokomotif ini maka sebelum dikirim lokomotif ini diruwat dan akhirnya dilakukan beberapa hal agar pengirimannya lancar yaitu:

  • Selama pengiriman dari TMII ke Solo tidak boleh ditutupi terpal sama sekali.
  • Selama pengiriman harus dikasih dupa di setiap titiknya dan tidak boleh mati.
  • Harus diberi bendera merah putih dan dipasangkan di depan lokomotif.

Hingga saat ini lokomotif D52099 berada di stasiun Purwosari (PWS), Solo, Jawa Tengah bersama satu lokomotif lainnya yang juga sedang menunggu untuk direaktivasi untuk menambah kereta wisata di kota Solo yang saat ini dilayani oleh KA Jaladara yang dihela lokomotif C1218. Kita tunggu saja kapan roda besi sang pelari tua ini bisa kembali berlari di rel meski tak sekencang seperti dahulu kala pada masa jayanya.

Cemplus Newsline by KAORI