BAGIKAN
Masinis KA di Tiongkok yang mengantongi enam lisensi KA, Xue Jun | Foto: CGTN Photo
Masinis KA di Tiongkok yang mengantongi enam lisensi KA, Xue Jun | Foto: CGTN Photo

Jaman silih berganti, dunia perkeretaapian sendiri juga terus berkembang dalam beberapa dekade terakhir ini termasuk juga di negeri tirai bambu, Tiongkok yang kini sedang gencar-gencarnya melakukan inovasi dalam bidang perkeretaapian.

Di negara tersebut, tiap generasi masyarakat pasti memiliki pandangan yang berbeda-beda jika membicarakan tentang kereta api (KA). Misal, generasi yang lahir pada tahun 1970an akan mengingat KA sebagai alat transportasi yang sangat berisik dan berasap tebal yang berasal dari pembakaran bahan bakar lokomotif uap. Sementara itu, generasi tahun 1980an mengingat KA sebagai alat transportasi yang lebih tenang namun masih padat penumpangnya dan tanpa adanya penyejuk udara. Namun, hal tersebut akan berbeda bila dilihat dari masyarakat generasi tahun 1990an yang lebih dimanjakan dengan hadirnya kereta listrik yang lebih bersih dan cepat, sedangkan anak anak yang lahir setelah tahun 2000an mungkin hanya mengenal kereta peluru yang dapat berlari jauh lebih cepat dari para pendahulunya.

Seiring dengan perkembangan yang ada, tidak banyak kru KA yang dapat bertahan untuk bisa merasakan berbagai jenis lokomotif saat berdinas. Namun, lain halnya dengan masinis yang satu ini.

Advertisement Inline

Xue Jun, seorang masinis KA di Tiongkok tercatat telah mengantungi enam jenis lisensi lokomotif selama dia berdinas dalam waktu 31 tahun karirnya. Masinis senior Tiongkok tersebut berasal dari Jinan, provinsi Shandong yang sudah bercita cita menjadi masinis dari masa kecilnya. Tak ayal, pekerjaannya sebagai masinis pun sudah menjadi passion dirinya.

Xue menyelesaikan sekolah perkeretaapiannya pada tahun 1987 dan mendapatkan lisensi dinas pertamanya untuk masinis lokomotif uap yang hanya berjalan maksimal sampai 60 km/jam. Menjadi masinis lokomotif uap pada saat itu begitu jauh dari bayangannya, ruang kabin begitu kotor dan berdebu serta mengendalikannya begitu penuh tantangan. Kabin lokomotif uap yang selalu melawan arah laju angin saat berjalan, pasti dipenuhi oleh debu dan abu batu bara yang terbakar yang menyebabkan para masinis terlihat begitu kusam dan dekil. Para masinis saat itu pun juga membuat lelucon untuk menghibur mereka saat berdinas sepert: “Dia terlihat bagaikan pengemis atau penambang yang kotor, namun saat kita lihat lebih dekat, dia ternyata masinis.”

Dekade 1980an, saat lokomotif diesel begitu populer dan membuat pamor lokomotif uap meredup, Xue segera beradaptasi untuk mengemudikan lokomotif diesel. Pada tahun 1992, Xue akhirnya berhasil mendapatkan lisensi untuk mengoperasikan lokomotif diesel. Saat itu, kereta berlokomotif diesel dapat melaju hingga kecepatan maksimum 90 km/jam, melampaui kecepatan maksimal lokomotif uap yang pernah Xue jalankan sebelumnya.

Lokomotif Diesel milik China Railways | Foto: commons.wikimedia.org

Beberapa tahun kemudian, pemerintah Tiongkok meluncurkan program untuk memodernisasi jalur KA-nya agar bisa melaju hingga 160 Km/jam dan pada tahun 1997 Xue pun ikut serta dalam program ini dan berakhir dengan lisensi ketiganya yang dirinya dapatkan di tahun 1998. Bekerja dengan lokomotif diesel, membuat Xue tampak jauh lebih bersih dan rapi. Kabin lokomotif diesel yang bersih dan dilengkapi dengan pemanas serta kipas membuat masinis yang berdinas menjadi lebih nyaman dalam bertugas.

Seiring berkembangnya jaman, beberapa tahun setelah Xue mendapatkan lisensi ketiganya, saat pemerintah Tiongkok sudah banyak mengoperasikan lokomotif listrik dan melayani banyak rute di sana. Xue pun berminat untuk menambah kompetensinya dan berhasil mendapatkan lisensi keempatnya untuk lokomotif listrik pada tahun 2006. Xue saat itu merasa puas akan kenyamanan dan performa yang diberikan oleh lokomotif listrik dan bertekad untuk mengendalikannya hingga pensiun.

Setahun setelah Xue mendapatkan lisensi keempatnya, Pemerintah Tiongkok mulai merintis layanan kereta peluru/High Speed Train (HST) dengan kecepatan maksimal 250 km/jam dengan jalur yang baru saja dioptimalisasi penggunaannya. Xue pun kembali bertekad untuk menambah ilmunya sehingga bisa mengemudikan kereta peluru yang baru diluncurkan dan berhasil mendapatkan lisensi kelimanya pada tahun 2009. Dia pun merasa bangga akan kecepatan kereta peluru yang dia kendalikan, “Kereta ini bisa melaju 83 m/s”, terangnya.

Xue Jun saat mengoperasikan kereta cepat | Foto: CGTN Photo

Tahun 2011, sebuah program pemerintah dalam meningkatkan kecepatan kereta di Tiongkok mulai dilakukan untuk mempersingkat waktu tempuh antara Jinan di provinsi Shandong dan Nanjing di sebelah timur provinsi Jiangsu yang berjarak 667 kilometer dari 10 jam hingga hanya 130 menit saja. Xue yang tertarik untuk bisa ikut serta dalam program ini, akhirnya berhasil memperoleh lisensi keenamnya pada tahun yang sama.

Saat ini, Tiongkok menjadi salah satu negara yang mampu mengembangkan jalur kereta peluru dengan kecepatan hingga 380 km/jam. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, tentu saja dibutuhkan masinis-masinis KA yang berkualitas, mempunyai dedikasi yang tinggi serta disiplin dalam menjalankan tugasnya seperti Xue.

Jalan karir Xue untuk menggapai impian masa kecilnya memang sudah tercapai. Namun, dirinya paham bahwa tugas yang dia emban semakin berat. Mengoperasikan kereta dengan kecepatan tinggi memang terlihat keren, namun dirinya sadar bahwa hal tersebut juga diiringi oleh resiko dan tanggung jawab yang besar. Dengan motivasi tersebut, Xue sangat berkonsentrasi saat dia bekerja untuk memastikan keamanan di tiap kesempatan. Hal ini hampir mirip dengan prosedur tunjuk-sebut yang diterapkan di Jepang dan Indonesia pada masa-masa sekarang ini.

Bagi Xue dan rekan-rekan masinis dengan standar tinggi, mereka harus selalu mengingat satu hal; Ada sekitar 1000 penumpang lebih di dalam kereta (yang kita kemudikan), dan keluarga mereka telah menunggu kedatangan (mereka).”

Xue Jun dan tujuan kecilnya “Aman berdinas dan pensiun dalam damai.” | Foto: CGTN Foto

Dengan segala pencapaiannya, Xue dinobatkan oleh Biro Perkeretaapian Jinan sebagai model percontohan bagi rekan-rekan masinis KA lainnya dan juga bagi Partai Komunis Tiongkok (CPC). Xue bahkan menerapkan diet ketat untuk mencegah dirinya terkena gangguan pencernaan saat dirinya sedang mengoperasikan KA yang dapat mengakibatkan keterlambatan pada KA yang dia kemudikan. “Tidak ada ‘insiden’ bagi saya,” seru masinis KA berusia 49 tahun tersebut.

Pencapaian Xue sebagai Masinis KA adalah salah satu bukti dari kegigihan dirinya yang tidak mengenal rasa puas dalam menekuni dan mendalami apa yang dirinya kerjakan. Ini merupakan contoh yang sangat baik bagi para pemuda.

Cemplus Newsline by KAORI via CGTN | Diterjemahkan oleh Yonathan Kharisma Anasthasis, editing oleh Farouq Adhari

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.