edi sukmoro pt kereta api indonesia
Mantan Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro

Terhitung dari 8 Mei 2020, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) resmi merombak jajaran direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau yang biasa disebut KAI berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN nomor SK-142/MBU/05/2020, dengan memberhentikan Edi Sukmoro dari jabatan Direktur Utama (Dirut) dan mengangkat Didiek Hartantyo sebagai dirut yang baru.

Sebagai dirut, Edi Sukmoro memimpin perusahaan plat merah tersebut dengan gaya kepemimpinan yang cukup “unik” dan cukup dikenal oleh sejumlah kalangan publik. Namun, belum banyak yang mengetahui latar belakang dan sepak terjang Edi Sukmoro sebelum menjabat sebagai pimpinan di salah satu operator kereta api (KA) di Indonesia ini.

Advertisement Inline

Lulusan S1 Institut Teknologi Bandung (ITB) dan S2 The University of Melbourne

Pria kelahiran Malang 15 Maret 1959 ini mengenyam pendidikan hingga jenjang Magister. Ia tercatat sebagai alumni Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung tahun 1978. Setelah menyelesaikan studi sarjana di ITB, ia meneruskan pendidikan Magisternya di The University of Melbourne, Australia dan mendapatkan gelar Master of Engineering Master Science in Project Management.

Sempat Bertugas di PT Pembangunan Jaya dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)

Setelah lulus dari ITB Edi Sukmoro sempat berkarir di PT Pembangunan Jaya pada tahun 1984. Namun, beberapa bulan kemudian ia memutuskan untuk pindah ke PLN. Selama berkarir di PLN, ia pernah menjabat sebagai Deputi Direktur Anggaran dan Deputi Direktur Umum sebelum pindah ke KAI.

Awal Karier di KAI

Setelah menjadi Deputi Direktur Umum di PLN pada tahun 2013, ia dipanggil oleh dirut KAI pada saat itu, Ignasius Jonan untuk berkontribusi di KAI mulai tahun 2013. Pada awal kariernya di KAI, Edi Sukmoro menjabat sebagai Direktur Aset dan Tanah Pembangunan yang bertugas untuk mengurus seluruh aset KAI yang tersebar di Indonesia.

Hingga pada tahun 2014, ia diangkat sebagai Direktur Utama oleh Menteri BUMN saat itu, Rini Soemarno untuk menggantikan Ignasius Jonan yang telah diangkat menjadi Menteri Perhubungan oleh Presiden RI Joko Widodo.

Edi Sukmoro saat mencoba membeli tiket KA melalui mesin finnet

Kepemimpinan di KAI

Selama menjabat sebagai dirut KAI, Edi Sukmoro lebih menekankan untuk meneruskan budaya kerja yang telah dibentuk oleh dirut sebelumnya, Ignasius Jonan dengan mengubah orientasi perusahaan yang sebelumnya berorientasi produk menjadi berorientasi pelayanan. Layanan seperti pemesanan tiket via ponsel pintar, E-boarding Pass, dan Mesin Cetak Tiket Mandiri muncul pada masa Edi Sukmoro menjabat sebagai dirut KAI.

Di bawah kepemimpinannya, KAI pada tahun 2017 dianugerahiTransformation Achievement Award” oleh Asosiasi Contact Center World (CCW) pada kegiatan Best Practice Conference and Awards Top Ranking Performers, tanggal 23–27 Oktober 2017.

Terdapat Kesamaan antara Memimpin di KAI dan PLN

Menurut Edi Sukmoro yang sebelumnya pernah menjabat sebagai salah satu jajaran direksi di PLN, ia mengatakan bahwa antara PLN dan KAI memiliki kesamaan dalam orientasinya yaitu pelayanan kepada  publik. Hal itu yang membuatnya tidak terlalu sukar untuk beradaptasi ketika berpindah dari perusahaan plat merah tersebut. Walaupun berbeda bentuk jasa, keduanya sama-sama harus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Selama menjabat di KAI, Edi Sukmoro juga tak lepas dari beragam hal yang cukup menuai perdebatan seperti pendahulunya, berikut adalah kebijakan dan hal “kontroversial” selama dirinya menjabat sebagai dirut KAI.

1. Identik dengan Kereta Inspeksi

Edi Sukmoro mengeluarkan kebijakan kontroversial yang cukup membuat banyak perdebatan terutama di dunia pencinta KA (railfans) dan sebagian masyarakat pengguna KA. Pasalnya, di era kepemimpinannya ia pernah mencetuskan kebijakan tiap Daerah Operasi (DAOP) harus memiliki satu set kereta inspeksi (KAIS). Yang menjadi masalah adalah rangkaian KAIS ini diperoleh bukan dengan cara membeli baru dari pabrik, melainkan hanya merombak rangkaian kereta rel diesel (KRD) komuter yang memiliki kondisi fisik masih bagus untuk dikonversi menjadi KAIS.

Hal ini menimbulkan kontroversi, karena daerah yang sebelumnya memiliki layanan KRD komuter menjadi kekurangan rangkaian karena rangkaiannya diambil untuk dijadikan KAIS. Contohnya KA Perintis Bathara Kresna di Solo yang kehilangan rangkaian cadangannya efek program konversi ini.

Baca Juga: Ada Mushollanya! Ini Fasilitas Kereta Inspeksi Terbaru KAI

2. Membuat Layanan Rail Clinic dan Rail Library

Tidak bisa dipungkiri pembuatan layanan klinik dan perpustakaan berjalan di atas rel merupakan salah satu inovasi yang dibuat oleh Edi. Namun, kebijakan ini juga sempat menimbulkan kontroversi karena rangkaian yang digunakan juga mengambil dari rangkaian KRD komuter perkotaan yang hanya dikonversi saja.

Baca Juga: Unik! Kereta Ini Dilengkapi Fasilitas Kesehatan Seperti Rumah Sakit

Rail Clinic jilid 2 saat proses uji coba | Foto: Dhannie Setiawan

3. Sangat Sering Menggunakan Kereta Inspeksi

Edi Sukmoro termasuk salah satu tipe dirut yang suka turun lapangan. Namun, cara yang dilakukan berbeda dengan Ignasius Jonan yang sering melakukan sidak dengan ikut naik ke kereta reguler, Edi lebih sering menggunakan KAIS daripada menggunakan kereta reguler. Sebenarnya penggunaan KAIS oleh dirut KAI ini tidak terlalu dipermasalahkan. Namun, karena frekuensi penggunaannya yang terlalu sering dan perjalanan KAIS ini kerap didahulukan ketimbang KA penumpang segala kelas, hal ini dianggap mengganggu jadwal dan sempat diperdebatkan oleh beberapa penumpang KA termasuk penumpang kereta rel listrik (KRL) Commuter Line.

Ignasius Jonan pun sempat menanggapi perihal penggunaan KAIS ini saat dirinya telah menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dengan banyaknya keluhan mengenai penggunaan KA Inspeksi ini, Jonan pun angkat bicara. Menurutnya KA Inspeksi yang digunakan dalam kondisi non-darurat harus menyesuaikan dengan perjalanan KA yang sudah terjadwal. Tanggapan Jonan lainnya adalah “Pimpinan yang suka naik KA Inspeksi itu sebenarnya kurang efektif karena tidak banyak merasakan langsung bersama pelanggan”. Hal ini tentu benar adanya mengingat Jonan adalah salah satu Dirut KAI yang “merakyat”, bahkan pernah rela tidur di tempat duduk KA kelas Ekonomi saat perjalanan dinasnya.

Baca Juga: Jonan: Pimpinan Yang Suka Naik KA Inspeksi Tidak Efektif

4. Sempat Viral karena Naik Rakit saat Banjir

Saat bencana banjir besar melanda Jakarta pada awal tahun 2020, sempat beredar video Edi Sukmoro yang sedang melakukan inspeksi ke Dipo KRL Bukit Duri. Namun, hal yang unik adalah ketika  melakukan inspeksi ia tidak berjalan kaki melewati banjir seperti karyawan lain yang mendampinginya, melainkan duduk di atas rakit kayu yang didorong oleh pendampingnya. Hal ini sontak menjadi viral di media massa dan tidak sedikit warganet yang melontarkan komentar miring atas video tersebut.

Cemplus Newsline by KAORI

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.