BAGIKAN

Saat ini telah mulai banyak bermunculan para komikus muda yang memiliki kemampuan yang tidak kalah bersaing dengan para komikus papan atas Indonesia. Namun, sebagian dari komikus muda tersebut memiliki kesulitan dalam melakukan pengembangan karakter intellectual property atau IP serta untuk membuat market komik mereka.

Pada tahun 2017 lalu, staf KAORI Nusantara berhasil melakukan wawancara eksklusif dengan Sweta Kartika, salah seorang komikus berbakat Indonesia mengenai pengembangan karakter IP  dan cara meraih market  komik.

Sweta Kartika pada acara Creator brand

This interview is also available in English

Advertisement Inline

Jadi, bisa diceritakan bagaimana awalnya kenal dan belajar tentang pengembangan Intelectual Property / IP?

Sebenarnya, saya tahu istilahnya aja pas sudah mengeluarkan beberapa judul. Ternyata ada istilah Intelectual Property. Jadi sebelumnya saya cuma bikin komik-komik aja. Dan ternyata ada istilahnya induknya lagi sama di bawah komik-komik masih ada channel/media. Sama seperti membuat game, saya membuat intellectual property game -nya, di sana membuat game. Tapi kita pernah lihat sendirikan seperti Naruto yang selain ada komiknya juga ada gamenya. Ternyata seperti itulah IP, saya mengetahuinya pas di tengah-tengah. Jadi sambil belajar sambil berkarya.

Jadi, di tengah proses jadi komikus Anda mulai mengenal IP?

Iya, mulai kenalan sama IP.

Pernah dapat tantangan saat mengembangkan IP atau ada faktor tertentu yang membantu perkembangan IP?

Jadi, saya lihat motivasinya dulu. Dulu saya berpikir dari komik saja saya bisa hidup. Ya, saya cuma ngomik aja, gak mau fokus di IP atau segala macemnya. Terlalu concern. Tapi saya sadar karena ada tuntutan ekonomi, sehingga berkarya dari komik saja gak cukup. Aku harus menjual merchandise atau ya, simpelnya melisensikan produk yang tadinya berawal dari komik ini menjadi produk-produk lain atau di-alihmedia-kan, supaya memberikan nilai lebih baik dari sisi ekonomi, popularitas, awareness sampai lainnya. Setelah itu, saya kan mau gak mau ada kebetuhan untuk belajar seperti apa, tadi awalnya enggak ada keinginan seperti itu. Tapi setelah saya merasa itu perlu, akhirnya saya mulai belajar dan mengembangkan IP.

IP itu tidak semuanya berangkat dari komik. Contohnya Hello Kitty, itu adalah IP tapi berbasis karakter. Kemudian saya belajar IP itu seperti apa, lalu formulasinya ada apa saja? Dari yang saya ketahui, ada IP berbasis karakter dan IP berbasis cerita. Saat ini saya sedang mengembangkan ceritanya yang nanti butuh media-media lain membawakan ceritanya, seperti film, animasi, game dan komik. Karena kebetulan saya membuat komik, akhirnya saya fokus sama IP berbasis story. Tidak menutup kemungkinan juga saya akan membuat IP berbasis karakter seperti Faza.

Oh, Faza Meonk ya?

Ya, dia mengembangkan IP berbasis fictional character. Jadi dia mendirikan Pionicon itu sebagai “agensinya” si karakter. Kalau saya kan masih menangani semuanya.

Beberapa komik Mas Sweta ini kan sudah diterbitkan di luar negeri seperti Grey dan Jingga yang telah dirilis di Jepang. Apa komentar para pembaca di luar sana?

Karena temanya adalah slice of life romance, para pembaca itu serasa akrab. Beberapa komentar datang melalui teman si pembacanya. Jadi, ada temannya pernah datang dan komentar kalau temannya pernah baca itu dan ketawa-ketawa karena ceritanya, yang artinya guyonannya masuk.

Jadi begini, untuk merilis komik Grey & Jingga keluar negeri itu kan ada beberapa pertimbangan, seperti “ini bisa gak cerita, tata bahasa, dan jokes-nya dipasarkan di Jepang? Grey & Jingga memenuhi kriteria itu, makanya bisa dijual di Jepang. Sama aja seperti di Indonesia, tapi mungkin di sini distribusinya jauh lebih luas. Balik lagi, tantangan pengembangan IP sebetulnya seperti itu.

Waktu awal-awal saya membuat Grey & Jingga di dalam negeri, saya merasa waktu itu masih belum ada tantangannya. Kalau saya sih, syukur-syukur distribusinya bisa lebih luas lagi, tapi kan dulu komik ini pengembangan pasarnya enak karena diterbitkan lewat Facebook. Karena itu saya jadi mengembangkan IP dan akhirnya jadi lebih mudah karena orang udah pada kenal ketika nanti dirilis produk utamanya. Kanal utamanya memang komik, tapi nanti belakangan juga mulai dikembangkan ke animasi. Kalau merchandise sih udah dari kemarin.

Iya sih, saya sendiri tahu Grey & Jingga pun dari website dan Facebook. Dan akhirnya pun beli komiknya.

Iya kan, Jadi kaya, Saya gak tau kenapa jadi dulu, Sempat ada isu tentang market block di mana kontennya sebelumnya sudah ada secara gratis, tetapi ketika bentuk fisiknya dijual akhirnya kurang laku karena sudah “diblok” oleh para pembeli itu. Tapi nyatanya beli juga kan? Jadi artinya, Indonesia masih berpeluang.

Saya sebagai komikus terus mengembangkan IP dengan produk komik cetak sebagai lini utamanya dan itu masih memberikan keuntungan. Ya, saya membuat IP buat menabung jadi saya enggak langsung mendapatkannya secara instan. Tapi, bisa saja produknya nanti mungkin bakal seperti Faza, jadi film. Nanti kalau jadi film pasti penjualan produknya gila-gilaan nih. Apa lagi kalau sudah menjual lisensi.

Berarti berkaitan dengan berjualan lisensi dari IP?

Iya, sebenernya kunci IP ya itu saja, menjual lisensi. Jadi saya membuat IP tujuan akhirnya untuk dijual lisensinya. Seperti misalnya, saya ngeliat Stan Lee yang memiliki copyright-nya beberapa karakter di Marvel. Ya, dia tinggal duduk manis hari ini.

Tinggal menikmati hasilnya ya?

Menikmati hasil dari lisensi tadi, itu kalau karyanya sudah dieskalasi menjadi IP. Soalnya sulit kalau nanti karyanya hanya ada dalam bentuk komik. Banyak orang yang masih berpikir “Gue cetak, terbitin, udah.” Hanya menunggu hasilnya saja. Dia masih belum berpikir “Saya mau ngeluarin karya ini. Kapan lagi? Di momentum apa? Judulnya apa? Yang lagi cocok sama trennya apa?”.

Kalau orang belajar IP, mau gak mau dia akan mempertimbangkan aspek tadi. Kalau kamu belajar IP kamu belajar pengembangan produk itu menjadi apa. Itu aja sih, ya tantangannya tentu kita jadi gak cuma bisa jadi penulis saja.

Berarti bisa ada tantangan ke arah lain?

Ya, menurut saya seperti sekarang yang masih hype itu di ranah digital, jadi coba-cobalah mempelajari cara “bermain” di ranah digital. Bisa dengan endorsing juga. Sekarang beberapa karakter komik di Instagram itu sudah beralih jadi endorser dan harganya boleh diadu. Ibaratnya kalau dulu kita digantungkan ke royalti atau bayaran per panel, sekarang sumber pendapatannya sudah beda lagi.

Komik-komik mas Sweta ini diterbitin di banyak publisher. Bagaimana sih menentukan komik ini akan dirilis lewat penerbit tertentu?

Menurut saya, ini ada dua isu. Pertama, judul komik berbeda yang dirilis di publisher berbeda atau komik yang sama di beberapa publisher berbeda. Untuk kasus pertama, saya mengambil contoh Grey & Jingga. Saya sadar komik ini memiliki target pasar terbesar dan lebih hype di antara karakter IP saya yang lain, seperti Wanara dan  H2O:Reborn.

Karena hype-nya besar, saya merasa percuma kalau saya jual secara online. Lebih baik saya tawarkan ke publisher yang distribusinya paling luas, seperti Gramedia. Tidak akan menutup kemungkinan kalau ada yang penerbit lebih gede lagi saya akan rilis ke sana. Contohnya saat ini re:ON yang saya nilai sudah mulai oke, dan penjualannya sudah di seluruh Indonesia. Saya tawarkan lagi IP Grey & Jingga ke sana dengan catatan kontennya berbeda. Jadi, hak terbit cetaknya hadir dengan konten yang berbeda tidak seperti yang diterbitkan di Koloni.

Koloni menerbitkan Grey & Jingga: The Twilight, sedangkan yang di re:ON Grey & Jingga: Purple Sunday. Karakter di Purple Sunday ini ada yang baru loh, jadi orang akan tetap beli dua-duanya bahkan. Dari dua penerbit itu, saya bilang ke Koloni “Kalau saya nerbitin Purple Sunday di re:ON kalian untung karena pembaca re:ON akan beli The Twilight.” Begitupun sebaliknya. Kalau re:ON menerbitkan Purple Sunday, pembaca The Twilight mau gak mau harus beli re:ON. Kalau nanti komik tankoubon atau kompilasinya sudah terbit pasti akan dibeli.

Itu bargain yang saya lakukan kepada para publisher. Untuk komik-komik lain contohnya, saya punya komik yang genrenya segmented, yaitu “Pusaka Dewa”. Silat, action, bahasanya sastra. Itu tidak mungkin saya tawarkan ke publisher. Saya sadar, mungkin saya gak mau pihak penerbit rugi juga. penjualannya pasti sedikit karena pasarnya segmented.

Jadi, lebih baik saya cetak sendiri. Bikin penerbit sendiri e Padepokan Ragasukma. Saya juga belajar menjadi penerbit sendiri. Saya coba deliver sendiri ke market. Intinya intinya ada pertimbangan kenapa saya terbitkan di sini karena pertimbangannya berdasarkan pasar.

Sweta Kartika pada acara Popcon 2015

Demikian hasil wawancara kami bersama dengan Sweta Kartika. Semoga wawancara ini dapat membantu para komikus muda untuk mengembangkan komik milik mereka, khususnya membantu dalam mengembangkan intellectual property serta untuk membuat market komik mereka.

KAORI Newsline | Wawancara dan Foto oleh Ahmad Faisal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.