BAGIKAN

Skor 2

Bagaimanakah seharusnya ulasan atau resensi memberi penilaian kepada suatu film atau buku, termasuk tentu saja kepada anime atau komik? Salah satu poin yang acap kali menjadi perdebatan adalah sistem penilaian yang memberikan skor, baik berupa angka maupun huruf. Kontroversi terhadap sistem penilaian berskala itu wajar karena pengalaman menonton atau membaca cenderung bersifat subyektif. Di KAORI sendiri (saat ini) tidak ada aturan yang mengharuskan penulis untuk memberikan skor kepada anime atau komik yang diulasnya. Dan di antara staf KAORI, saya sendiri termasuk salah satu yang selalu tegas menolak penggunaan skor. Dalam kesempatan kali ini, saya ingin menjelaskan posisi saya pribadi mengenai hal ini; mengapa saya meninggalkan penilaian menggunakan skor, dan apa yang lebih ingin saya sampaikan melalui ulasan-ulasan yang saya buat.

Perasaan di Luar Skala Pengukuran

Sebenarnya saya baru beberapa tahun ini meninggalkan penilaian dengan skor. Dulu pun, saya suka memberi-beri skor kepada anime-anime yang sudah saya tonton. Kemudian di tahun 2011, ada sebuah kasus yang mulai menggoyahkan ‘kepercayaan’ saya pada sistem skoring. Saya tidak langsung meninggalkan penilaian dengan skor karenanya, tapi saya jadi mulai terpikir bahwa tidak semua hal bisa saya nilai dengan skor, sebelum secara bertahap kemudian saya menyerah sepenuhnya dari mempertahankan database skor untuk anime-anime yang sudah saya tonton (berlaku juga untuk komik-komik yang saya baca).

Kasus yang menjadi awal titik balik tersebut adalah ketika saya berhadapan dengan penilaian sebuah anime berjudul Toradora! (ya, saya memang terlambat menonton anime keluaran tahun 2008 itu).

Menonton Toradora! meninggalkan saya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya tidak bisa mengatakan kalau Toradora! itu jelek. Karakter-karakternya, interaksi dan konflik di antara mereka, dan pengembangannya cukup dalam dan kompleks. Namun di sisi lain, saya tidak bisa suka dengan Toradora!. Entah kenapa saya tidak bisa klop dengan narasi yang diberikan oleh Toradora! sehingga menontonnya tidak bisa menjadi pengalaman yang ‘menyenangkan’ bagi saya.

Bagaimana cara menentukan skor dari kesan dan perasaan yang campur aduk seperti itu? Apakah saya harus mengikuti perasaan gusar saya saat menonton anime itu dan memberinya skor rendah? Tapi itu jadinya tidak fair kepada aspek-aspek dari anime itu yang sudah dikerjakan dengan baik. Lalu apakah berdasarkan hal-hal baik itu saya beri nilai tinggi saja? Tapi itu memberi kesan seolah-olah hal tersebut bisa membuat saya menikmati menonton anime itu, padahal tidak. Apakah saya cari ‘titik tengah’ atau nilai reratanya saja? Itu pun bukan representasi yang tepat dari kesan mengenai kualitas dan perasaan yang dialami saat menonton itu. Kedua hal tersebut tidak commensurable, tidak sepadan untuk dibandingkan sebagaimana nasi goreng dan musik waltz. Bagaimana bisa penilaiannya diagregasikan? Ada kesan dan perasaan yang tidak bisa ditangkap oleh skala pengukuran di sini, dan karena itu penilaian skor jadi mengkomunikasikan kesan yang tidak tepat.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kasus Toradora! ini tidak langsung membuat saya meninggalkan skor. Selama selang waktu tertentu, solusi yang saya pilih adalah membiarkan Toradora! menjadi satu-satunya anime yang tidak saya beri skor di database saya. Tapi setelah itu pun, berbagai ketidakpuasan dalam merumuskan kriteria-kriteria penilaian skor pada akhirnya membuat saya menghapus database skor itu seluruhnya.

Masalah dengan skor ini sebenarnya hanya saya alami dalam pengelolaan database. Sementara saat saya pertama kali mencoba menulis ulasan anime di tahun 2011, saya tidak mencantumkan skor di sana, padahal anime itu masih termasuk anime yang saya beri skor di database. Selain menyalahkan faktor keteledoran, mungkin ada baiknya saya jelaskan juga mengenai panutan saya dalam menulis yang memberi pengaruh kuat kepada orientasi saya dalam membuat ulasan dan tujuan yang saya inginkan melaluinya.

Berbagi Pengalaman Membaca/Menonton yang Bermakna

Setidaknya sejak 2010, saya suka membaca blog anime dan manga bernama Ogiue Maniax yang ditulis oleh seseorang bernama Carl alias sdshamshel. Otaku Chinese-American ini bukan orang yang menulis dengan sembarangan; tahun ini ia baru saja mendapat gelar doktor dari Universitas Leiden. Tulisan-tulisannya memadukan argumentasi yang logis dan jernih dari seorang akademisi, tapi dengan bahasa populer yang sederhana dan mudah dimengerti. Bahasan-bahasannya memberi wawasan yang lebih mendalam dan tajam.

Dalam tulisan-tulisan ulasan anime dan komik yang dibuatnya, Carl tidak memberikan penilaian skor. Ulasannya memang tidak melulu berkutat pada penilaian bagus atau jelek, tapi seringkali lebih kepada menelaah tema-tema dan gagasan-gagasan yang diusung oleh anime/komik yang dibahasnya, atau konteks kondisi yang melatarbelakanginya. Ulasan seperti ini memberi perspektif yang membantu pembaca memperkaya pengalaman menonton anime yang dibahas menjadi sebuah apresiasi yang bermakna.

Lihatlah ulasannya untuk Evangelion 3.33, yang daripada menghujat ceritanya yang tidak jelas seperti kebanyakan komentator lainnya, lebih memilih untuk mencoba memahaminya sebagai suatu bentuk renungan dan reaksi Anno terhadap kondisi-kondisi terkini. Atau lihatlah ulasannya untuk Witch Craft Works, yang menghadirkan sudut pandang menarik di mana judul tersebut dapat digunakan untuk merefleksikan peran gender karakter yang lazim ditemui dalam fiksi. Sementara dalam ulasannya untuk The Wind Rises (Kaze Tachinu), ia membahas bagaimana film tersebut merefleksikan kegundahan dari tidak bisa lepasnya kegiatan berkarya dari konteks sosial dan politik.

Sebagaimana disampaikan oleh Carl, ia ingin membantu orang-orang mengapresiasi anime dan manga, membantu mereka memahami hal-hal yang mereka sukai dengan lebih baik. Pendekatan seperti itulah yang menjadi inspirasi dan prinsip yang ingin saya pegang selama membuat ulasan selama ini. Mulai dari membaca Kamen Rider Fourze dari kacamata gender, melihat dimensi dampak modernisasi terhadap identitas dalam Taisho Baseball Girls, memetakan relasi komunikasi dalam Gatchaman Crowds, hingga bahkan menjelaskan fungsi fantasi dari Ore, Twintail ni Narimasu. dalam perspektif psikoanalisis Tamaki Saitō! Ada banyak perspektif-perspektif menarik yang dapat memperkaya wawasan dalam memaknai tontonan-tontonan ini, dan kepuasan memaknai itulah yang ingin saya bagi melalui ulasan.

Saya tidak mengatakan bahwa perspektif yang saya hadirkan dalam ulasan yang saya tulis adalah satu-satunya kemungkinan yang benar untuk memaknai apa yang saya bahas tersebut. Jika pada akhirnya pembaca memiliki perspektif lain yang memberi makna yang lebih sesuai bagi dirinya sendiri, itu bukan masalah. Saya hanya menawarkan salah satu pilihan kemungkinan dari berbagai kemungkinan yang ada untuk memperoleh pemaknaan itu. Mudah-mudahan hal itu dapat membantu pembaca dalam mencari dan menemukan jalan yang paling sesuai bagi dirinya.

Sebagai penutup, ada pesan sederhana yang mungkin sangat common sense (tapi mungkin justru karena itu orang jadi sering lupa). Ingatlah bahwa skor itu bukan dewa. Ketika menemukan ulasan yang memberi skor terlalu rendah, atau sebaliknya terlalu tinggi dari penilaian anda sendiri, tidak usah bereaksi emosional terlalu serius seolah-olah urusan hidup dan mati. Tak usah membiarkan skor mendikte penilaian anda, karena yang lebih berharga adalah bagaimana anda sendiri memaknai apa yang anda tonton atau baca, dan tidak ada skala yang dapat mengukur kepuasan dari hal tersebut.

KAORI Newsline | Oleh Halimun Muhammad

1 KOMENTAR

  1. saya kira ndak masalah memberikan skor/rating yang secara visual dikasih bintang 1 sampai lima sebelum review seperti di situs2 review movie atau game , dgn syarat pembaca juga diikutsertakan memberikan rating/skor tersebut, sehingga dengan begitu skor atau rating tersebut lebih bernilai secara statistik untuk mengukur seberapa besar penilaian orang terhadap anime/manga tersebut, kalau skor atau rating hanya berasal dr satu orang saja maka saya kira kurang bersifat obyektif 😀

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.