BAGIKAN

reon

Selamat datang di KRL Wednesday! Dalam rubrik ini, seperti biasa KAORI akan mengeksplorasi rangkaian-rangkaian KRL unik dengan berbagai faktor menarik yang mungkin mengena di hatimu. Kali ini KAORI menghadirkan salah satu KRL rheostatik terakhir di Jabodetabek, Tokyo Metro seri 5000 rangkaian 5809F. Dengan bunyi release rem yang khas, simak perjalanannya.

Simak juga beberapa edisi KRL Wednesday sebelumnya: KRL JR seri 205, 205-54F, Tokyu Seri 8500 – 8613F (JALITA), dan Toei seri 6000, 6181F

Lima Plus Lima? Siapa Takut?

Seperti yang telah disinggung dalam KRL Wednesday sebelumnya, ada dua operator kereta api bawah tanah di kota Tokyo*. Selain Tokyo-to Kotsu Kyoku (Bureau of Transportation Tokyo Metropolitan Government, 東京都交通局, Toei), ada Tokyo Metro yang dahulu dikenal dengan nama Teito Rapid Transit Authority (帝都高速度交通営団, TRTA, juga disingkat Eidan). Walau sama-sama subway, keduanya beroperasi secara mandiri dan tiket Tokyo Metro tidak bisa dipakai untuk naik kereta Toei dan sebaliknya.

KRL TM 5009F, 3 November 1992 (http://nobitetsu.blog72.fc2.com/blog-entry-639.html)
KRL TM 5809F, 3 November 1992 (http://nobitetsu.blog72.fc2.com/blog-entry-639.html)

KRL seri 5000 hadir dan dirancang untuk beroperasi di jalur Tozai, jalur baru Eidan saat itu. Jalur ini mulai beroperasi untuk umum pada 23 Desember 1964 antara petak stasiun Takadanobaba – Kudanshita. Tanggal yang sama juga menjadi hari debut perdana KRL seri 5000.

Pada zamannya, KRL seri 5000 (bersamaan dengan Tokyu seri 7000 dan Eidan seri 3000) menjadi KRL generasi awal dengan bodi berbahan baja anti karat alisas stainless-steel dan dirakit oleh beberapa pabrikan kereta kawakan, diantaranya Kawasaki, Kinki, Teikoku, dan Tokyu Car Corporation.  Selain itu, KRL ini awalnya pun didesain untuk beroperasi dengan formasi 10 kereta, di mana pada kondisi normal dijalankan dengan formasi 7 kereta dan 3 kereta tambahan digandengkan pada jam-jam sibuk. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila semasa dinasnya, KRL ini pernah beroperasi dengan formasi-formasi yang sangat unik.

Formasi awal 5809F, 1966.
Formasi awal 5809F, 1966.

Rangkaian 5809F sendiri mengawali debutnya pada 19 Januari 1966, sekitar setahun setelah jalur Tozai dibuka. Seluruh kereta dalam rangkaian ini diproduksi oleh Tokyu Car Corporation.

Formasi 5809F tahun 1987.
Formasi 5809F tahun 1987.

Pada tahun 1987, karena satu dan alasan lain, formasi KRL ini berubah. Seluruh kereta di tengah diubah dan hanya menyisakan kereta kepala saja.

Formasi 5809F, 1990
Formasi 5809F, 1990

Kemudian pada tahun 1990 KRL ini beroperasi dengan formasi 10 kereta yang sangat unik. Ujung kepala kereta ini tetap kereta 5809 dan 5009, namun di tengah-tengah, terselip kereta kabin 5038 dan 5838. Formasinya pun menjadi 5+5!

Formasi 5809F setelah instalasi AC.
Formasi 5809F setelah instalasi AC.

Pada tahun 1993 hingga 1996, sejumlah KRL seri 5000 dikonversi menjadi KRL Toyo Rapid seri 1000. Sisa KRL seri 5000 yang masih beroperasi pun dilakukan pemasangan AC secara bertahap dan rangkaian 5809F selesai dipasangkan AC pada tahun 1993. Bentuk rangkaian ini pun bertahan sampai hari akhirnya di Jepang.

Haru Biru Akhir Dinasnya dan Bau-Bau Korupsi

Pada tahun 1988, KRL seri 05 tiba di lintas Tozai. Rangkaian seri 05 pun perlahan menggantikan seri 5000, namun 5009F tetap bertahan sampai hari akhirnya di Jepang dan menjadi ikon dalam last run (perjalanan terakhir) KRL seri 5000 di Jepang. Perjalanan terakhir (dan open house di depo Fukagawa) rangkaian ini pun dilakukan pada 27 Januari 2007.

Berbeda dari rangkaian-rangkaian lain yang langsung menuju jalur scrap, jalan rangkaian ini ke Indonesia tidak semulus KRL-KRL lain sebelum atau sesudahnya. Diduga ada tindak pidana korupsi yang terjadi saat KRL ini didatangkan yang menyeret beberapa nama besar di Indonesia, di antaranya mantan direktur utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang kemudian menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Departemen Perhubungan (Dephub), Soemino Eko Saputro dan Menteri Perhubungan (Menhub) saat itu, Hatta Rajasa.

Dari laporan Tempo, diduga pemerintah membeli KRL ini dari Sumitomo, dan Sumitomo diduga membeli KRL ini tidak langsung dari Tokyo Metro sebagaimana lazimnya, namun dari perusahaan yang seharusnya melakukan scrap KRL ini. Secara tidak langsung, pembelian KRL seri 1000 dan 5000 tak ubahnya seperti pembelian mobil dari pemulung.

Walau demikian, hal tersebut tidak menghalangi kedatangan KRL ini ke Indonesia dan 5809F pun tiba di Jakarta pada Maret 2007, sekaligus menjadi KRL berteknologi rheostatik terakhir yang tiba ke Indonesia.

*Jalur TWR Rinkai sebenarnya juga berada di bawah tanah, namun secara teknis diperlakukan sebagai perpanjangan jalur Saikyo milik JR East sehingga umumnya tidak dianggap sebagai subway.

Bersambung ke halaman berikutnya