SHARE

reon

Selamat datang di KRL Wednesday! Dalam rubrik ini, seperti biasa KAORI akan mengeksplorasi rangkaian-rangkaian KRL unik dengan berbagai faktor menarik yang mungkin mengena di hatimu. Kali ini KAORI menghadirkan KRL seri 7000, 7121F yang menemui akhirnya dalam peristiwa legendaris kecelakaan Bintaro (PLH Bintaro, Tragedi Bintaro 2).

KRL Wednesday edisi sebelumnya:

Saudara Dekat Seri 6000

Pada mulanya, Teito Rapid Transit Authority (帝都高速度交通営団, TRTA, juga disingkat Eidan) melakukan pembangunan jalur kereta rel listrik (KRL) bawah tanah (subway) perkotaan dalam skala masif. Dalam kurun waktu 15 tahun, Eidan membangun 5 jalur subway baru, diantaranya jalur Hibiya (1961), Tozai (1964), Chiyoda (1969), Yurakucho (1974) dan Hanzomon (1978). KRL seri 7000 dibangun berdasarkan pengalaman Tokyo Metro dengan KRL seri 5000 dan 6000. Dua buah rangkaian seri 5000 (set 5950 dan 5951) dibangun sebagai percontohan atau prototype KRL berbodi Aluminium, mengikuti KRL JNR seri 301 saat itu. Kemudian saat membangun seri 6000 untuk jalur Chiyoda, dipergunakanlah bodi aluminium secara keseluruhan.

Seri 7000 dibangun dengan bodi dari bahan dasar aluminium dan mengikuti desain KRL seri 6000 secara hampir menyeluruh. Aluminium dipilih karena dipandang lebih ringan dibandingkan baja anti karat atau stainless-steel yang lumrah dipakai saat itu, namun dengan biaya yang jauh lebih tinggi dari stainless-steel. Hasilnya, berat KRL ini jauh lebih ringan dimana selisih berat kereta dengan bodi aluminium dan stainless-steel bisa mencapai 6 ton, sekitar seperlima berat KRL umumnya yang rata-rata berbobot 27 sampai 40 ton per unit.

KRL 7121F di stasiun Kawagoeshi, 9 Februari 2009 (http://netrain.makibisi.net/trainphoto/tokyometro/7000.htm)
7121F di stasiun Kawagoeshi, 9 Februari 2009. Simbol Y di muka menandakan KRL ini hanya diizinkan beroperasi di jalur Yurakucho. (http://netrain.makibisi.net/trainphoto/tokyometro/7000.htm)

Rangkaian 7121F sendiri merupakan rangkaian KRL generasi ketiga dari seri 7000. Dibangun oleh pabrik kereta Kawasaki, unit-unit KRL ini dibangun pada tahun 1982 dan mulai berdinas pada awal 1983. Berbeda dari KRL 7000 sebelumnya, rangkaian ini dibangun utuh dengan formasi 10 kereta sejak awal dan memiliki ciri khas jendela ruang penumpang yang lebih tinggi dari KRL lainnya.

Selain itu, walau pendingin ruangan atau Air-Conditioner (AC) di KRL ini baru akan dipasang pada tahun 1990, KRL ini telah disiapkan untuk pemasangan AC sehingga rancang desain pendingin KRL ini sama dengan KRL-KRL yang dibangun selanjutnya, menggunakan sistem Linedelier (ラインデリア) atau kipas (fan) di dalam rongga langit-langit, tanpa menggunakan kipas angin sebagaimana KRL sebelumnya.

Formasi 7121F saat awal berdinas sampai hari akhirnya di Jepang.
Formasi 7121F saat awal berdinas sampai hari akhirnya di Jepang.

Formasi KRL ini relatif stabil dan setelah menjalani pemasangan AC pada tahun 1990, tidak ada perubahan signifikan pada KRL ini selain pemeliharaan akhir lengkap (PAL) yang dilakukan setiap empat tahun. Lalu pada 1994, KRL ini menjalani retrofit mid-life tipe B.

Pada Mei 2006, KRL Tokyo Metro seri 10000 mulai dioperasikan sebagai bagian dari persiapan operasi jalur Fukutoshin yang merupakan jalur terbaru Tokyo Metro secara penuh, dan akhirnya baru dapat terealisasi dua tahun kemudian. Sebagian rangkaian KRL seri 7000 dimutasi ke jalur Fukutoshin dan diubah formasinya menjadi 8 kereta, sementara sebagian lainnya dirucat (scrap). 7121F bersama tiga saudaranya, 7117F, 7122F dan 7123F beruntung karena pergi ke Indonesia sebagai bagian dari program pengadaan KRL bukan baru PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) saat itu yang belum lama didirikan. Pada pertengahan 2010, 7121F pun pergi ke Indonesia dan tiba sekitar satu bulan setelah rangkaian perdana, 7117F sampai.

Bersambung ke halaman berikutnya