BAGIKAN
(Satoru Takamiya/Shogakukan/PT Gramedia Pustaka Utama-M&C)

Perbedaan usia adalah salah satu unsur yang dapat dimainkan oleh cerita romance untuk membangun konflik dan drama. Dan hal itulah yang menjadi landasan utama dari komik komedi romantis berjudul Ninja Girl in Love yang diterbitkan oleh m&c bulan September 2016 lalu. Komik dengan judul asli Shinobazuno! ini dikarang oleh Satoru Takamiya dan aslinya dimuat di majalah shoujo Cheese! Zoukan dari penerbit Shogakukan. Satu hal yang cukup menonjol dari penggunaan perbedaan usia dalam cerita komik ini adalah, sang tokoh cewek lah yang lebih tua dari tokoh cowoknya.

Shino Ichikawa (bukan Shino Asada) adalah gadis ninja berumur 17 tahun dari keluarga Ichikawa yang mengabdi pada keluarga Ogami. Shino ditugaskan untuk menjadi pengawal full-time ahli waris keluarga Ogami yang baru berusia 14 tahun, Kazuki Ogami, setelah ia menyelamatkan Kazuki dari pembunuh pada pesta ulang tahunnya. Sejak peristiwa itu, Kazuki sendiri jadi jatuh hati pada Shino. Namun perbedaan umur, status, dan sifat Shino yang telmi menjadikan Kazuki kesulitan membuat perasaanya ditanggapi oleh Shino.

ninja-girl-1
(Satoru Takamiya/Shogakukan/PT Gramedia Pustaka Utama-M&C)

Sebagaimana tergambarkan dalam sinopsis di atas, skenario Ninja Girl in Love tidak hanya menempatkan tokoh ceweknya sebagai sosok yang lebih tua dari tokoh cowoknya. Ia juga membalik peran melindungi dan dilindungi antara tokoh cowok dan cewek, seperti yang mungkin lebih lazim ditemui dalam komik-komik lainnya. Di sini, Shino lah yang menjadi “ksatria” yang mesti melindungi “tuan muda” Kazuki dari marabahaya.

Situasi seperti itu lah yang menghadirkan konflik, komedi, drama dan juga momen-momen manis dalam cerita ini. Hati Kazuki menjadi gundah karena dianggap masih bocah dan tidak ditanggapi serius oleh Shino. Sementara Shino menjadi repot karena harus menjaga profesionalisme dalam hubungannya dengan Kazuki.

Tapi bukan hanya perbedaan usia dan status saja yang menjadi sumber komedi dari cerita ini. Komik ini juga memainkan ekspektasi ideal dari imajinasi-imajinasi romantis melalui ketidaksempurnaan sifat karakter-karakternya. Misalnya, kekaguman Kazuki pada gadis cantik keren yang telah menyelamatkan nyawanya terbuyarkan karena Shino ternyata cukup telmi dan mengawang-awang, sehingga Kazuki jadi tsundere pada tingkah polah Shino.

ninja-girl-2
(Satoru Takamiya/Shogakukan/PT Gramedia Pustaka Utama-M&C)

Model humor seperti itu paling terlihat pada bab Natal dalam komik ini. Untuk mengajarkan kegembiraan Natal pada Kazuki, Shino mengajak Kazuki “kencan” bersama di malam Natal. Namun “kencan” itu berjalan tak seromantis seperti yang biasanya dibayangkan, karena Shino malah mengajak Kazuki melakukan kegiatan-kegiatan standar kencan seperti menonton film, makan malam, dan melihat pemandangan, dengan pilihan/cara yang tidak lazim atau merepotkan.

ninja-girl-3
(Satoru Takamiya/Shogakukan/PT Gramedia Pustaka Utama-M&C)

Tentu tidak semua momen antara Shino dan Kazuki berisi masalah-masalah yang menimbulkan komedi atau drama seperti yang digambarkan di atas. Pada akhirnya ada juga momen-momen manis dan bahagia di antara mereka. Dan dengan pembawaan komedi, sebagian momen-momen “ngawur” pun bisa menjadi bagian dari kenangan yang indah.

Komik Ninja Girl in Love ini pada akhirnya adalah karya fiksi, dan hubungan romantis yang digambarkannya tentu lebih merupakan suatu imajinasi yang ideal. Namun menarik juga melihat bagaimana sebagai suatu imajinasi pun, suatu fiksi romance juga bisa menampilkan sisi-sisi yang tidak ideal dari hubungan romantis untuk membangun komedi atau dramanya. Dengan cerita yang tamat dalam satu jiid, kisah komedi romantis beda usia ini bisa memberi hiburan ringan yang lucu dan manis.

KAORI Newsline | Oleh Halimun Muhammad

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.