BAGIKAN

Demi menyelamatkan Blue Angel yang terkena virus komputer oleh pasukan Knights of Hanoi, Playmaker menerima tantangan dari Revolver. Pada awalnya Akira sendirilah yang ingin menghadapi Playmaker karena diyakini sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa adiknya. Namun kemunculan Revolver di tengah-tengah mereka berdua memberikan ancaman baru, Revolver hanya akan melepaskan Blue Angel jika ia kalah duel melawan Playmaker. Akira yang semula mencurigai Playmaker kemudian mulai menaruh kepercayaan kepada Playmaker. Playmaker pun meyakinkan bahwa selama ini ia tidak menaruh dendam kepada pihak SOL Technologies meskipun ia mendapat perlakuan yang kasar dari Akira, karena ia hanya memiliki tekad untuk menghentikan para Knights of Hanoi.

© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS
© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS

Speed Duel antara Playmaker melawan pimpinan Knights of Hanoi, Revolver pun dimulai. Dalam duel ini, Playmaker mengalami tekanan yang cukup besar karena Revolver bisa mengendalikan arus Data Storm dengan program miliknya. Di sisi lain, Akira memerintahkan Ghost Girl untuk mengintai jalannya duel di antara mereka berdua. Di tengah sengitnya duel tersebut, agenda sesungguhnya dari Revolver mulai terkuak.

Teknologi tidak selamanya membuat hidup lebih baik

© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS

Melalui duel yang cukup sengit ini, akhirnya motif dari Revolver yang terlihat seperti villain utama di anime ini sedikit demi sedikit mulai terkuak. Tujuan di balik usaha Revolver mendapatkan Ignis dan juga menghancurkan Cyverse adalah karena ia memiliki keyakinan bahwa internet adalah tempat penuh kepalsuan. Banyak manusia yang terlena dengan hubungan palsu yang mereka jalin di internet. Bagi Revolver, kehadiran internet dan Link Vrains sebagai sebuah media baru tidak hanya membawa pengaruh positif bagi kehidupan tetapi juga memiliki dampak negatif. Ketergantungan manusia yang tinggi kepada teknologi dikhawatirkan bisa menghancurkan dunia, menurut Revolver. Dan ia yakin Ignis-lah yang akan membimbing umat manusia menuju kehancuran tersebut.

Advertisement Inline

Jika ditarik ke dalam konteks yang ada sekarang, kritik Revolver terhadap keberadaan Link Vrains bisa dibawa ke dalam contoh media sosial. Di satu sisi media sosial seperti Facebook dan Twitter memang bisa memberi kemudahan dalam berkomunikasi. Banyak cerita yang beredar di internet mengenai bagaimana dua orang yang sudah lama tidak bertemu bisa dipertemukan kembali melalui media sosial. Selain itu kehadiran media sosial juga membuka peluang baru bagi para pelaku bisnis dan industri. Tumbuh kembangnya marketplace berbasis grup di Facebook serta Digital Marketing di media sosial menjadi contoh bagaimana teknologi media sosial bisa membuka pengaruh positif tidak hanya dalam ranah antar-personal tetapi juga dalam ranah bisnis dan industri.

© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS

Namun ada juga sisi lain dari penggunaan media sosial. Dalam episode ini Revolver membahas bagaimana banyak orang tertipu oleh hubungan maya di media sosial. Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat untuk berkomunikasi dengan orang lain tapi juga bisa menjadi tempat untuk membentuk hubungan. Namun apakah hubungan ini nyata atau hanyalah bentukan algoritma sistem semata? Media sosial mengaburkan batas antara hubungan yang ada di dunia nyata. Seperti saat seorang remaja dan ibunya yang saling berteman di Facebook. Dalam dunia nyata hubungan yang terjalin di antara mereka adalah anak dan orang tua, namun di Facebook hubungan tersebut hanya dianggap sebagai sebuah pertemanan saja. Memang hal ini hanya disebabkan karena sistem dari Facebook dan terkesan tidak memiliki dampak terlalu besar. Tetapi sering sekali terjadi kasus di mana seorang remaja yang merasa canggung saat sedang berinteraksi bersama teman-temannya di Facebook kemudian akun ibunya, yang berteman dengannya, ikut dalam obrolan di kolom komentar tersebut. Media sosial sebagai sebuah platform berbasis User Generated Content juga memungkinkan seseorang untuk membuat identitas yang baru di media sosial, nama pengguna, foto tampilan, hingga status hubungan semua bisa dibuat-buat. Jika demikian apakah status hubungan yang ditampilkan di media sosial menunjukkan seseorang benar-benar berhubungan? Atau hanya sebuah keisengan semata?

© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS

Di skala yang lebih besar, segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi internet dan media sosial juga menjadi peluang bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kasus pencurian akun media sosial yang digunakan untuk keperluan lain sudah sering terjadi. Media sosial kini bisa memudahkan penggunanya untuk memberi tahu lokasi mereka melalui GPS, hal ini bisa jadi disalahgunakan oleh orang-orang yang melakukan pengintaian melalui media sosial. Segala data dan informasi yang diunggah ke media sosial bisa jadi dilacak untuk kepentingan dan agenda lain. Penculikan hingga trafficking melalui media sosial mulai mengkhawatirkan pihak keamanan termasuk di Indonesia. Berbagai cache dan history pengguna internet juga kini digunakan oleh para pengiklan untuk menggempur pengguna dengan terpaan iklan internet yang sangat mengganggu. Isu mengenai Net Neutrality yang sempat digaungkan oleh beberapa aktivis juga bisa jadi contoh bagaimana kehadiran teknologi internet bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Begitu juga dengan maraknya kejadian Cyber Bullying di media sosial akhir-akhir ini. Setidaknya apa yang dikatakan Revolver mengenai bahaya jika manusia sangat ketergantungan terhadap Internet bisa jadi ada benarnya juga.

Revolver sebagai sosok karakter antagonis

© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS

Sebagai seorang antagonis, yang dari kemunculannya di episode 1 sudah dicap sebagai villain, Revolver memilki karakteristik yang cukup menarik. Salah satu hal yang menarik dari karakter ini adalah bagaimana seorang peretas seperti Revolver ternyata memiliki pandangan yang kritis menolak keberadaan teknologi internet. Hal ini membuat Eye bingung dan menyebut Revolver sebagai seorang anti-modern.

© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS

Karakteristik Revolver juga terbangun dari peran Shunsuke Takeuchi sebagai pengisi suaranya. Shunsuke Takeuchi yang lebih dikenal sebagai pengisi suara Produser di seri The Idolm@ster Cinderella Girls adalah seorang seiyuu yang masih muda namun memiliki suara yang sangat berat yang bisa cocok mengisi karakter Produser di The Idolm@ster Cinderella Girls. Dengan karakter suara berat ini, Shunsuke Takeuchi pernah mengisi suara karakter antagonis H.P. Lovecraft di seri Bungo Stray Dogs. Suara beratnya ini juga ternyata yang membawanya kembali mengisi karakter antagonis di Yu-Gi-Oh! VRAINS. Dengan karakter suara yang cukup khas, Shunsuke Takeuchi mampu membawakan karakter antagonis Revolver dengan baik.

© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS
© Kazuki Takahashi – Studio Dice / Shueisha – TV Tokyo – NAS

Dalam serial Yu-Gi-Oh! selalu ada karakter rival yang memiliki kartu andalan. Di episode ini, Revolver menghadirkan kartu andalannya yang membuat jalannya duel antara dia melawan Playmaker menjadi sangat seru, yakni Cracking Dragon dan Topologic Bomber Dragon. Duel antara Playmaker melawan Revolver di episode ini sangatlah sengit karena keduanya saling berbalas counter-attack satu sama lain. Sejak turn pertama, duel sudah berlangsung dengan sangat serius dan keduanya tidak menunjukkan kelemahan satu pun. Jalannya duel semakin menarik saat Revolver ternyata bisa menggunakan skill Storm Access sama seperti Playmaker. Episode ini benar-benar menghadirkan pertempuran perdana antara karakter utama melawan sang antagonis yang sangat menegangkan.

KAORI Newsline | oleh Rafly Nugroho

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.