BAGIKAN
Kondisi peron darurat yang disiapkan untuk naik turun penumpang KRL di stasiun Tambun, Minggu (10/9). (Hamas F Susanto)

reon

Jakarta terus membangun. Pembangunan berbagai proyek infrastruktur terus dikebut di seluruh penjuru ibukota, di mana ini sesungguhnya hal yang bagus. Tetapi niat baik ini dinodai dengan kebiasaan pengelola infrastruktur yang memaksakan operasi prasarana sebelum kondisinya benar-benar siap melayani penumpang.

Kegagalan Terminal 3 Ultimate dalam bulan-bulan perdananya seharusnya menjadi pelajaran mahal bagi para pemilik sarana dan prasarana. Tetapi alih-alih menjadi masukan berharga, hal serupa ternyata ditiru oleh Transjakarta dengan mengoperasikan Koridor 13 secara separuh-separuh. Celakanya, “playbook” Angkasa Pura II dan Transjakarta ini terancam “ditiru” oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) selaku operator layanan kereta listrik (KRL) komuter Jabodetabek, yang akan segera mengoperasikan lintas Cikarang.

Kondisi Stasiun yang Masih Jauh dari Layak

Sejumlah stasiun di lintas timur sedang dibangun atau direhab besar-besaran. Stasiun Cikarang misalnya, menjadi salah satu stasiun paling mewah di timur Jabodetabek dengan peron-peronnya yang lebar dan parkirannya yang luas. Tetapi stasiun-stasiun lain tidak sesiap ini. Bahkan di stasiun Tambun, hanya disiapkan bancik-bancik (peron sementara) dengan kanopi seadanya untuk mengakomodasi naik-turun penumpang KRL. Bila malam menjelang dan hujan turun, bersiaplah untuk risiko jatuh terpeleset dari peron tinggi karena tidak ada lampu penerangan terpasang di bancik ini, kecuali di sekitaran ruang PAP (pengawas peron).

Kondisi ini masih bisa dimaklumi jika pengoperasian dilakukan di stasiun-stasiun lintas Rangkasbitung yang notabene tidak terlalu padat penumpangnya. Tetapi jika kita berbicara potensi hitungan ribuan, bahkan belasan ribu penumpang yang akan tap in dan tap out dari stasiun antara Bekasi sampai Cikarang, pengoperasian KRL ini lebih berbahaya daripada hari pertama uji coba pengoperasian rangkaian formasi 12 kereta.

Kondisi stasiun lain tidak kalah memprihatinkan. Tengok stasiun Cikarang. Meski stasiun ini sudah dibangun dengan demikian megah, penumpang dilayani melalui bancik darurat alih-alih melalui peron yang semestinya. Di stasiun-stasiun lainnya seperti Bekasi Timur dan Cibitung, kondisi seadanya juga terlihat. Siapkah stasiun-stasiun yang disiapkan seadanya tersebut menampung lonjakan penumpang karena pengoperasian KRL?

Kanopi darurat di stasiun Tambun. (Hamas F Susanto)

Bisa Dioperasikan vs Siap Operasi?

Bila melihat sejenak ke Transjakarta koridor 13, secara umum seluruh halte sudah bisa dipergunakan bila targetnya hanya sebatas mengakomodasi naik-turun penumpang saja. Sehingga menjadi menarik ketika kita bertanya sejauh mana batas “siap” dan “layak” tersebut.

Dari 14 halte yang ada di Koridor 13, hanya 8 halte yang dibuka untuk penumpang. Pengoperasiannya pun setengah hati, hanya sampai pukul 1900. Bahkan tidak ada monitor LED untuk menampilkan posisi kedatangan bus sehingga penumpang harus berfilsafat, menebak-nebak kapan bus berikutnya datang (walau hal ini sedikit terbantu dengan rapatnya headway bus dan waktu perjalanan yang singkat). Sedangkan sisa halte lainnya bermasalah dengan penerangan, eskalator yang belum terpasang, yang mana bila hal tersebut “diabaikan”, sebenarnya mudah sekali dinyatakan “bisa dioperasikan”.

Melihat kondisi prasarana di lintas sepanjang Bekasi – Cikarang, sebenarnya setali tiga uang dengan Koridor 13. Bila fungsinya hanya sebatas menaik-turunkan penumpang KRL, stasiun-stasiun tersebut sangat siap dan sangat mampu untuk melayani. KCJ bahkan tidak perlu repot-repot memasang gate khusus, cukup memasang tiang tap in seperti yang pernah terpasang di stasiun-stasiun kecil antara Parungpanjang – Maja sebelum KRL mencapai Rangkasbitung. Tidak perlu repot memasang bancik untuk peron rendah karena operator cukup mengoperasikan rangkaian KRL yang memiliki pijakan kaki di ujung pintunya. Masalah siap-tidak siap, layak-tidak layak menjadi sangat normatif di depan persepsi masing-masing orang.

Perpanjangan KRL sampai Cikarang memang sudah didambakan sejak lama. Masyarakat menanti harapan baru akan transportasi umum yang relatif lebih cepat dan murah. Tetapi jangan sampai pemenuhan harapan masyarakat ini dilakukan dengan mengabaikan faktor kenyamanan dan keselamatan. Bukankah operator kereta api saat ini punya slogan safety has no holiday dan Keselamatan Anda Adalah Prioritas Kami?

Oleh Kevin W | Penulis telah menggunakan transportasi KRL sejak 2007 sejak zaman masih sering tidak membeli karcis, menggunakan abunemen KRL ekonomi AC, sampai membeli kartu multi trip di hari pertamanya dijual. Pengguna Transjakarta sejak bus Huanghai pertama beroperasi di koridor 5.

Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.