Esai ini mengandung spoiler agar bagian-bagian yang penting dapat dibahas secara jelas.

Menonton film terbaru Makoto ShinkaiWeathering with You (Tenki no Ko, 2019) membuat saya merasakan nostalgia. Melihat jalanan dan sudut-sudut Tokyo yang diguyur hujan mengingatkan saya pada waktu saya berlibur ke Osaka lima tahun sebelumnya. Gerimis musim semi mengguyur sepanjang hari dari sejak saya tiba di bandara, menaiki kereta ke kota, hingga mencari makan malam. Kemudian, setelah cerah selama empat hari, hujan musim semi itu kembali lagi di pagi hari ketika saya berangkat ke bandara untuk pulang. Saya datang ke Jepang dijemput oleh hujan, dan diantar pulang oleh hujan.

Namun lebih dari sekedar nostalgia, saya memang mencoba lebih memperhatikan bagaimana kota Tokyo digambarkan dalam film kali ini dan bukan hanya memperhatikan cerita tokoh-tokoh utamanya. Saya terdorong melakukan itu karena diskusi yang saya dengarkan dari Pause and Select dan paper yang saya baca mengenai ruang urban dan rural dalam film Makoto Shinkai yang sebelumya, your name. (Kimi no na wa., 2016).

Advertisement Inline
© Weathering With You Production Committee/CoMix Wave Films Inc.

Selain bangunan-bangunan dan lokasi-lokasi fisik yang digambarkan dengan detil sebagaimana tempat-tempat sungguhan, dalam Weathering with You kita juga bisa mengamati denyut-denyut kehidupan Tokyo diimajinasikan dari kereta-kereta dan mobil-mobil yang berlalu-lalang, dari orang-orang, tua, muda, dan anak-anak yang berjalan, berlari ke sana kemari, atau duduk, mengobrol, dan seterusnya, baik saat hujan maupun saat cerah. Gerakan-gerakan yang digambarkan itu menghidupkan (atau bisa dibilang juga, “menganimasikan”) kota dengan berbagai orang, benda, tempat, dan segala hubungan di antara mereka.

Namun bagaimana dengan tempat Hodaka, Hina, dan Nagi, tokoh-tokoh utama film ini, dalam detak kehidupan kota itu?

Secara keseluruhan para tokoh utama Weathering with You memiliki hubungan yang renggang dengan kehidupan masyarakat kota. Kehilangan orang tua atau kabur dari kampung halamannya, mereka hidup dalam ruang marjinal yang minim bimbingan orang dewasa, bersusah payah mencukupi hidup mereka dengan usaha sendiri meski masih di bawah umur. Bahkan upaya pihak berwenang untuk mengatasi masalah kesejahteraan mereka sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, biarpun didasari niat baik, tetapi di sisi lain justru akan memutus hubungan kebersamaan yang telah terbangun di antara mereka, hubungan personal yang berharga dan memberi mereka rasa diterima.

Mengikuti skema dramawan Minoru Becchaku (Abel, 2011; Tanaka, 2013), jika hubungan kebersamaan di antara Hodaka, Hina, dan Nagi kita anggap sebagai latar depan (foreground) dan kehidupan masyarakat kota Tokyo sebagai latar tengah (middle ground), maka kita juga perlu memperhitungkan latar belakang (background) yang berada di luar kuasa dan pemahaman manusia, yang di film ini merupakan langit dan cuaca yang menghujani Tokyo tanpa henti entah kenapa. Yang jelas alam langit itu terhubung dengan latar depan melalui kemampuan Hina sebagai “gadis cerah” (hare onna), atau mungkin lebih tepatnya semacam medium antara dunia manusia dan langit, yang bisa membuat hujan berhenti di suatu tempat dengan berdoa.

© Weathering With You Production Committee/CoMix Wave Films Inc.

Hina, Hodaka, dan Nagi menggunakan kemampuan itu untuk mencari nafkah sebagai pawang hujan, sekaligus membuat mereka bisa mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat kota Tokyo. Namun seiring berjalannya cerita, kemampuan itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan Hina kepada langit, atau hujan tidak akan lagi berhenti turun di Tokyo. Mengapa demikian tidak dijelaskan secara gamblang, karena memang misteri itu menegaskan posisi langit sebagai elemen di luar pemahaman nalar manusia.

Melihat situasi demikian, saya bisa memahami mengapa salah satu staf KAORI, Dany melihat ada karakteristik sekai-kei pada Weathering with You. Nasib dunia terhubung erat dengan relasi personal tokoh-tokoh utama yang hubungannya renggang dengan masyarakat, dan di dalam relasi personal itu, terdapat karakter gadis yang memiliki kekuatan istimewa yang tindakannya menjadi kunci untuk menyelamatkan dunia dari marabahaya (Abel, 2011). Ini adalah salah satu motif cerita yang sudah tidak asing pada era pasca anime Evangelion (1995), sebagaimana salah satu film lama Shinkai sendiri, Voices of a Distant Star (Hoshi no Koe, 2002), dianggap sebagai salah satu karya yang paling mewakilli cerita sekai-kei (Tanaka, 2013).

Namun Weathering with You melalui perkembangan yang berbeda dari pakem yang dianggap lazim pada cerita sekai-kei, di mana hanya tindakan tokoh gadis yang menjadi kunci nasib dunia, sementara tokoh utama lelakinya biasanya tidak berdaya dan hanya bisa mengamati tanpa menghadapi konsekuensi dari membuat keputusan untuk bertindak (Tanaka, 2013). Pada klimaks film, Hodaka bertindak untuk menjemput kembali Hina yang telah diambil oleh langit agar mereka dan Nagi bisa berkumpul bersama lagi, meskipun Hodaka tahu konsekuensi dari perbuatannya itu adalah cuaca ekstrim yang telah dihilangkan pengorbanan Hina akan kembali mendera Tokyo. Terlepas dari apakah keputusan Hodaka benar atau salah, ia menunjukkan tekad untuk tidak mangkir dari membuat keputusan yang memiliki konsekuensi berat. Ini juga pendekatan yang berbeda dari cara film Summer Wars (2009) karya Mamoru Hosoda mendobrak pakem sekai-kei, di mana tidak hanya tokoh-tokoh lelakinya, Kenji dan Kazuma, ikut aktif bertindak bersama tokoh gadisnya, Natsuki, tetapi seluruh keluarga besar Natsuki dan juga warganet dari seluruh dunia ikut membantu menyelamatkan dunia, menyatukan latar depan dengan latar tengah dalam menghadapi krisis bersama (Abel, 2011).

“Don’t wait for it. Earn it. And it will be granted to you.” -Adroc Thurston © Weathering With You Production Committee/CoMix Wave Films Inc.

Selanjutnya, dapat diperhatikan juga bahwa hubungan antara latar depan dan latar tengah dalam Weathering with You tidak selalu seantagonistik yang digambarkan oleh komentar Dany. Walaupun kehidupan di Tokyo nampak keras dan berjarak, Hodaka dkk. tetap mendamba hidup di kota tersebut. Dan seperti disebutkan di awal tulisan ini, Tokyo tetap digambarkan dengan sangat hidup. Beberapa tokoh orang dewasa di sekitar Hodaka seperti Natsumi juga digambarkan mengalami kesulitan mereka sendiri untuk berintegrasi ke dalam masyarakat, menjadikan mereka sosok yang melintasi batas antara latar depan dan latar tengah. Akhir dari film ini juga mengindikasikan bahwa kehidupan kota bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada dunia, yang toh akan terus berubah seiring waktu biarpun tanpa campur tangan manusia.

Apa maksud dari akhir seperti itu? Perlu diingat bahwa motif sekai-kei mengalami kematangan mengikuti situasi Jepang sejak periode 90-an (Tanaka, 2013). Sebelum periode tersebut, Jepang telah melalui masa perkembangan ekonomi yang sangat pesat dan iklim sosial-politik yang relatif stabil. Generasi yang mulai menginjak usia dewasa di akhir dekade 80-an dan awal 90-an tidak pernah merasakan kehancuran pasca Perang Dunia dan masa-masa sulit rekonstruksi sesudahnya, serta masih terlalu kecil saat gerakan-gerakan perlawanan mahasiswa seperti Anpo Toso (protes terhadap kerja sama keamanan Jepang-AS) dan Zenkyoto Undo (koalisi-koalisi mahasiswa radikal) yang terjadi pada tahun 60-an. Sebagaimana dibahas dalam Pause and Select, generasi ini hanya mengenal bencana dahsyat dan kerusuhan massal hanya melalui karya-karya fiksi, seperti misalnya film Akira (1988).

Namun setelah bubble ekonomi pecah dan di tahun 1995 terjadi gempa besar Hanshin dan serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo, bencana yang oleh generasi muda sebelumnya hanya dibaca di komik atau ditonton di layar menjadi bagian dari kehidupan nyata sehari-hari. Kiyoshi Kasai menggambarkan situasi yang ditanggapi oleh fiksi sekai-kei itu dengan “setiap hari adalah kiamat dan kiamat adalah keseharian” (Abel, 2011). Sepertinya bisa dipahami jika perasaan itu masih terus berlanjut setelah gempa Sendai dan bencana reaktor nuklir Fukushima di tahun 2011, dan bahkan di tahun 2018 lalu sejumlah gempa, taifun, banjir, dan longsor silih berganti melanda berbagai daerah di Jepang hingga kanji untuk “bencana” (災) terpilih menjadi kanji yang mewakili tahun itu.

Bencana dan krisis yang seperti terus berdatangan silih berganti setiap hari itu berpotensi menimbulkan rasa tak berdaya yang membatasi tindakan (Lamarre, 2009). Karena itu bagi saya film Weathering with You nampaknya berkembang dari kesadaran akan rasa tak berdaya yang dapat muncul tersebut, dan berusaha menanggapinya dengan membawakan cerita yang mengatakan bahwa tindakan-tindakan yang dapat dilakukan, baik oleh individu ataupun oleh komunitas, tetap berarti untuk dilakukan. Film ini ingin menyemangati penonton agar tidak mengalah pada situasi-situasi yang terasa berada di luar kuasa mereka (cuaca ekstrim yang dialami Tokyo di sini lebih berfungsi untuk merepresentasikan perasaan tak berdaya itu daripada untuk mendiskusikan apakah suatu bentuk bencana spesifik disebabkan atau bisa dicegah oleh manusia atau tidak). Bersama dengan cerita-cerita sebelumnya yang juga menguji corak sekai-kei seperti Summer Wars dan Darling in the Franxx (2018), mereka menarasikan bahwa kiamat setiap hari bukanlah alasan untuk berhenti bertindak, selama masih ada orang-orang berharga yang bersama menemani kita.

© Weathering With You Production Committee/CoMix Wave Films Inc.

Demikianlah mengapa saya merasa Weathering with You ini merupakan film yang menarik dan mencerahkan hari saya ketika menontonnya. Selama menonton, dan bahkan setelah menontonnya, pikiran saya terus bersemangat memikirkan kemungkinan-kemungkinan pertanyaan menarik yang bisa dibuka darinya.

P.S.: Best girl dalam film ini adalah duo cosplayer Pretty Cure yang menggunakan jasa pawang hujan Hina dan Hodaka. Sekian dan terima kasih.

Referensi

  • Abel, Jonathan E. “Can Cool Japan save Post-Disaster Japan? On the Possibilities and Imposssibilities of a Cool Japanology.” International Journal of Japanese Sociology 20 (2011). 59-72.
  • Lamarre, Thomas. “Conclusion: Patterns of Serialization.” The Anime Machine. Minneapolis: University of Minnesota Press, 2009. 300-321.
  • Nippon.com Staff. “A Disastrous Kanji of the Year? “Wazawai” Picked as Top Character for 2018.” Nippon.com (2018).
  • Pause and Select. “Understanding Disaster, Part 2: Akira and the Postmodern Apocalypse.” YouTube (2016).
  • Pause and Select. “Shadows of Fukushima (Your Name and Shin Gojira).” YouTube (2018).
  • Tanaka Motoko. “Apocalyptic Imagination: Sekaikei Fiction in Contemporary Japan.” E-International Relations (2013).
  • Thelen, Timo. “Disaster and Salvation in the Japanese Periphery. “The Rural” in Shinkai Makoto’s Kimi no na wa (Your Name).” ffk Journal 4 (2019). 215-230.

KAORI Newsline | Oleh Halimun Muhammad | Penulis adalah lulusan FISIP UI yang juga telah giat mengonsumsi anime dan manga selama lebih dari 10 tahun

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.