BAGIKAN

Salah satu momen penting di cerita Tokusatsu GaGaGa, yang mengisahkan seorang office lady yang menggemari serial tokusatsu, adalah ketika tokoh utamanya, Kano Nakamura, menemukan dan akhirnya berkenalan dengan perempuan penggemar tokusatsu lainnya di kereta. Ia bisa mengetahui kalau perempuan itu juga menggemari tokusatsu karena melihat tasnya dipasangi gantungan kunci (ganci) karakter hero Toraiger dari serial tokusatsu yang digemari Kano. Kano sendiri kemudian membuat dirinya dikenali oleh perempuan tersebut dengan menggunakan ganci karakter lain dari serial yang sama, Shishileo.

Momen itu mengingatkan saya pada suatu hari di tahun 2016, ketika saya sedang menunggu kereta di salah satu stasiun di pinggiran ibu kota untuk berangkat ke tempat kerja yang saat itu berada di sekitaran Tanah Kusir. Saat sedang duduk menunggu itulah, mendadak ada yang menyapa saya dari belakang. Ternyata yang menyapa adalah seorang adik angkatan saya dari kampus yang juga telah lulus dan akan berangkat kerja. Yang menarik, ia bisa mengenali saya dari belakang karena melihat ganci karakter anime yang ada di tas ransel saya yang baru saya beli dari acara Comifuro sebelumnya, kemudian berpikir yang suka karakter-karakter itu pasti saya (atau dia ingat kalau saya membeli ganci-ganci tersebut saat kita bertemu di Comifuro).

“Wow! Ternyata benar-benar ada kejadian seseorang bisa mengenali orang lain dari melihat ganci anime di tasnya!” begitulah pikir saya waktu itu.

Advertisement Inline

Itu bukan pertama kalinya saya disapa oleh sang adik angkatan karena pernik wibu. Lima tahun sebelumnya, saat menunggu kereta di stasiun yang sama untuk field trip ke Museum Bank Indonesia, ia menghampiri saya yang saat itu memakai kaos Saber Lily dan bertanya tentang sebuah komunitas penggemar anime di kampus (yang sayangnya, saat itu tidak saya ketahui karena baru dibentuk, sehingga saya tidak bisa memberikan jawaban yang membantu). Bisa dibilang itulah perkenalan pertama kali kami, yang walaupun cuma begitu saja, ternyata bisa berlanjut terus sampai sekarang bertukar-tukar novel untuk dibaca.

Bicara soal kaos wibu dan kendaraan umum, saya teringat satu peristiwa lain. Saat itu saya sedang dalam perjalanan ke suatu event di Balai Kartini. Untuk event yang satu itu, saya memakai kaos Gatchaman Crowds dari Cospa yang berisi kutipan yang menurut saya pas untuk zaman penuh film superhero seperti saat ini. Seperti biasa, sebagai cowok ampas yang boro-boro punya mobil atau motor, mengemudikan kendaraan saja tidak bisa selain sepeda dan bom bom car, saya pergi ke lokasi dengan kendaraan umum, menggunakan kereta dan Transjakarta. Saat di bus itulah, seorang pemuda berkaos (atau berjaket? Saya kurang ingat) Kirito yang terlihat bingung menghampiri saya dan bertanya apakah saya tahu kalau mau ke Balai Kartini harus turun di mana.

“Iya,” jawab saya. “Saya juga mau ke sana kok. Nanti ikuti saya saja.”

Not surprisingly, kami sedang menuju ke acara yang sama. Nampaknya melihat kaos yang saya pakai membuatnya menduga demikian sehingga berani menanyakan arah pada saya. Dan beruntung baginya, dugaannya benar. Dan saya bersyukur kaos itu ternyata bisa menjadi jalan bagi saya untuk memberi sedikit bantuan kepada orang lain.

Kembali ke adik angkatan saya sebelumnya, dia masih rajin datang ke Comifuro dan menjaga booth. Ketika kami bertemu kembali di Comifuro pada awal Maret 2018, ia banyak menceritakan kepada saya tentang pengamatan-pengamatannya dari isi booth dan pengunjung Comifuro, dari pernik BTS sampai pengunjung yang bawa anak. Salah satunya, ia mengarahkan perhatian saya kepada pin anime yang ada di tas salah satu pengunjung. Pin itu bergambar satu karakter dari Yowamushi Pedal. Karakter itu, katanya, sebenarnya cuma karakter minor, tapi tetap saja ada yang begitu suka pada karakter itu sampai punya pinnya.

Saat itu saya merasa malu sendiri. Saya yang menulis dan menjadi editor di sebuah media jejepangan online malah tidak tahu hal seperti itu. Kemampuan mengamati saya masih kalah dari dia!

Kejadian-kejadian seperti itu membuat saya berpikir bagaimana pernik-pernik wibu seperti ganci, pin, kaos dan sebagainya menjadi media yang menghubungkan penggemar untuk saling mengenali sebagai bagian dari komunitas minat yang sama. Dalam buku Otaku Spaces, (2010), Patrick Galbraith meminjam perumpamaan Azusa Nakajima (1991) dan Hiroki Azuma (2009) yang mengibaratkan otaku seperti kelomang/umang-umang. Mereka membangun dan membawa-bawa “cangkang” yang disusun dari kepingan-kepingan hal-hal yang mereka sukai menjadi penanda diri yang membuat mereka dapat saling mengenali. Pernik otaku, menurut Takuro Morinaga (Galbraith, 2014), berfungsi untuk menjembatani perasaan moe pada karakter 2D menjadi bagian dari dunia 3D. Kemudian, menurut Kaiichiro Morikawa (ibid.), menyatakan moe terhadap sesuatu, mengkomunikasikan banyak hal kepada mereka yang memahami maksudnya. Bukankah memakai pin bergambar karakter minor seperti di atas merupakan suatu hal yang sarat makna bagi mereka yang paham posisi karakter tersebut? Suatu pernyataan publik akan kesetiaan yang teguh kepada si karakter, yang tidak kalah kuatnya dengan memiliki barbie…, eh, figma satu karakter sampai tiga buah. Suatu pilihan pribadi yang memiliki makna secara sosial, yang menarik untuk dipelajari.

Setidaknya kalau saya berpencar dengan rekan-rekan saya di suatu acara, saya bisa menemukan mereka kembali dengan mencari jaket Little Busters atau ganci Error Musume dari gim Kantai Collection.

KAORI Newsline | Oleh Halimun Muhammad

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.